Bupati Bogor Rudy Susmanto Bentuk Satgas, Penanganan Kebakaran TPA Galuga Dikebut

Bupati Bogor Rudy Susmanto Bentuk Satgas, Penanganan Kebakaran TPA Galuga Dikebut. (Dok. Istimewa)

Bogor, WaraWiri.net - Bupati Bogor Rudy Susmanto mempercepat penuntasan penanganan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga. Usai meninjau langsung kondisi terkini di lokasi, Rudy langsung memimpin Rapat Penuntasan Penanganan Bencana Kebakaran TPA Galuga bersama jajaran Pemkab Bogor, Selasa (15/9/2026).

Rapat tersebut difokuskan pada pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kebakaran TPA Galuga sekaligus merumuskan strategi lanjutan agar proses pemadaman dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan tuntas.

Rudy Susmanto menegaskan, penanganan kebakaran Galuga membutuhkan kerja bersama seluruh unsur, baik pemerintah daerah, TNI, Polri, maupun instansi terkait lainnya. Koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah terus diperkuat untuk memastikan seluruh upaya di lapangan berjalan efektif.

“Kita bergerak bersama, lintas sektor dan lintas wilayah. Tidak ada lagi sekat Kabupaten atau Kota, karena keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama,” tegas Rudy.

Menurutnya, pembentukan Satgas menjadi bagian penting untuk memperkuat koordinasi, membagi tugas secara jelas, serta memastikan setiap langkah penanganan dilakukan secara terukur hingga titik api benar-benar dapat dipadamkan.

Rudy optimistis, dengan kerja keras dan semangat gotong royong seluruh pihak, penanganan kebakaran TPA Galuga dapat segera dituntaskan.

“Insyaallah, dengan kerja keras dan gotong royong seluruh pihak, Galuga segera kita tuntaskan,” tukasnya. (Ilham)
Share:

Pemkab Bogor Percepat Penuntasan Kebakaran TPA Galuga, Satgas Disiapkan dan PSEL Dikebut

Pemkab Bogor Percepat Penuntasan Kebakaran TPA Galuga, Satgas Disiapkan dan PSEL Dikebut. (Dok. Istimewa)

Bogor, WaraWiri.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memperkuat langkah penuntasan penanganan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga. 

Menindaklanjuti arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika memimpin Rapat Pembahasan Penanganan Kebakaran TPA Galuga sekaligus persiapan Ground Breaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), di Ruang Rapat Bupati Bogor, Selasa (15/9/2026).

Rapat tersebut dihadiri sejumlah kepala perangkat daerah, para kepala bagian di lingkungan Setda Kabupaten Bogor, Camat Ciampea, Cibungbulang, Dramaga dan Leuwiliang, serta Ketua PMI Kabupaten Bogor. 

Salah satu agenda utama yakni menindaklanjuti pembentukan Surat Keputusan (SK) Tim Satgas Penanganan Kebakaran TPA Galuga yang akan diketuai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bogor Yudi Santosa.

Sekda Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika menegaskan, penanganan kebakaran Galuga membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah dan tidak boleh hanya bergerak ketika ada instruksi. Setiap unsur pemerintahan, termasuk kecamatan dan desa, harus mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya.

“Bupati Bogor menginginkan semua kepala perangkat daerah bergerak bersama mengangani kejadian ini. Tidak harus menunggu arahan. Kita harus bergerak bersama, karena penanganan TPA Galuga ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegas Ajat.

Ia menambahkan, langkah penanganan tidak hanya diarahkan untuk memastikan bara di dalam timbunan sampah benar-benar terkendali, tetapi juga menyiapkan mitigasi menghadapi musim penghujan.

Sementara di tingkat wilayah, para camat diminta menggerakkan sekretaris kecamatan, kepala seksi hingga kepala desa untuk berperan aktif dalam mendukung penanganan kebakaran TPA Galuga.

Di sisi lain, rapat juga mematangkan persiapan Ground Breaking PSEL yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 17 September 2026 di TPA Galuga.

Ajat menegaskan, seluruh perangkat daerah harus mengambil peran, bukan hanya memastikan kesiapan di lokasi acara, tetapi juga menata kawasan sepanjang akses menuju Galuga, khususnya jalur Dramaga, Ciampea dan Cibungbulang.

“Yang kita siapkan bukan hanya titik ground breaking. Sepanjang jalan Dramaga, Ciampea dan Cibungbulang juga harus rapi. Kita akan kedatangan banyak tamu dari pemerintah pusat bahkan dari luar negeri. Ini harus kita siapkan bersama,” ujarnya.

Ground Breaking PSEL menjadi bagian penting dari upaya Pemkab Bogor mendorong transformasi pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Karena itu, seluruh unsur perangkat daerah, kecamatan hingga desa diminta memastikan persiapan berjalan terpadu, sehingga momentum tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjadi langkah nyata menuju penyelesaian persoalan sampah di Kabupaten Bogor.

Selanjutnya, Kepala Damkarmat Kabupaten Bogor Yudi Santosa menjelaskan, meski api dan asap sudah tidak terlihat, potensi bara di dalam timbunan sampah masih perlu diwaspadai.

Karakter kebakaran di TPA berbeda dengan kebakaran biasa karena api dapat menjalar ke bagian dalam timbunan sampah yang mengandung gas metana.

“Api memang sudah tidak ada, asap memang sudah tidak terlihat, tetapi baranya masih ada di dalam. Karena di TPA kebakaran bisa masuk ke dalam timbunan sampah dan bertemu dengan gas metana, sehingga bara dapat terus muncul,” jelas Yudi.

Menurutnya, proses pemulihan pascakebakaran diperkirakan membutuhkan waktu hingga sekitar 30 hari, khususnya karena kondisi saat ini masih berada pada musim kemarau.

Penanganan akan difokuskan pada wilayah selatan TPA Galuga yang berada di wilayah Kabupaten Bogor, dengan pengawasan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali memunculkan panas.

Untuk memperkuat penanganan, area terdampak akan dibagi menjadi tiga wilayah kerja yang masing-masing dipimpin seorang koordinator lapangan.

Setiap area diperkuat unsur PDAM untuk memastikan ketersediaan air, Damkarmat untuk penyiraman, BPBD untuk penanganan kebencanaan, serta operator alat berat untuk membongkar dan mendinginkan timbunan sampah.

Pemantauan titik panas juga akan diperkuat melalui kamera thermal. Hasil pemantauan menjadi dasar bagi tim lapangan untuk menentukan lokasi yang harus segera ditangani. 

Sistem penandaan lapangan akan menggunakan indikator warna hijau, kuning dan merah untuk menunjukkan tingkat kewaspadaan hingga titik yang masih memiliki potensi api.

Selain penanganan teknis, Pemkab Bogor juga menyiapkan pola piket selama 24 jam dengan pembagian tiga shift, masing-masing selama delapan jam. Langkah ini dilakukan agar pemantauan dan penanganan di lapangan tetap berjalan secara berkesinambungan, termasuk pada malam hari.

Pemkab Bogor memastikan penanganan kebakaran TPA Galuga dan persiapan PSEL berjalan beriringan. Penuntasan bara dan mitigasi pascakebakaran menjadi prioritas jangka pendek, sementara pembangunan PSEL diarahkan sebagai bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah di kawasan Galuga. (Ilham)
Share:

Perkembangan Indeks Menabung Konsumen dan Indeks Kepercayaan Konsumen Agustus 2026

Perkembangan Indeks Menabung Konsumen dan Indeks Kepercayaan Konsumen Agustus 2026. (Dok. LPS)

Jakarta, WaraWiri.net - Hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) LPS menunjukkan bahwa Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Agustus 2026 menguat 1,6 poin secara bulanan menjadi 79,4. Penguatan terutama didorong oleh Indeks Kemauan Menabung (IKMM) yang naik 3,4 poin menjadi 86,9, sementara Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) mengalami sedikit penurunan, yaitu sebesar 0,2 poin ke level 71,8. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kemampuan menabung konsumen belum meningkat, kemauan untuk menabung menguat sejalan dengan meredanya tekanan harga pangan dan bahan bakar minyak (BBM).

Penguatan IKMM tercermin dari peningkatan persentase responden yang menilai bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menabung, yaitu dari 23,2 persen pada Juli 2026 menjadi 24,7 persen pada Agustus 2026. Pada periode yang sama, persentase responden yang menyatakan bahwa tiga bulan mendatang adalah waktu yang tepat untuk menabung juga meningkat dari 28,5 persen menjadi 31,8 persen.

Sementara itu, penurunan IKPM tecermin dari kenaikan persentase responden yang menyatakan tidak pernah menabung, yaitu dari 37,2 persen di bulan Juli 2026 menjadi 38,1 persen di bulan Agustus 2026. Di periode yang sama, porsi responden yang menilai bahwa jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan tetap stabil di angka 38,1 persen.

Berdasarkan kelompok pendapatan rumah tangga (RT), pergerakan IMK pada sebagian kelompok RT cenderung menguat pada bulan Agustus 2026. Kenaikan IMK paling besar terlihat pada kelompok RT berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan, yaitu sebesar 11,7 poin, diikuti kelompok RT berpendapatan di atas Rp3 juta hingga Rp7 juta per bulan yang naik 9,7 poin.

Sementara itu, IMK RT berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan dan kelompok RT berpendapatan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan menurun, masing-masing sebesar 8,9 poin dan 7,4 poin. Adapun IMK RT berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan tetap di atas level 100 pada bulan Agustus 2026, menunjukkan kemampuan dan kemauan menabung kelompok ini yang masih terjaga.

Ekspektasi Konsumen terhadap Perekonomian Membaik

Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 turun 0,4 poin menjadi 83,8 dari 84,2 pada Juli 2026. Pelemahan terutama bersumber dari Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) yang turun 2,5 poin menjadi 61,5, sementara Indeks Ekspektasi (IE) menguat 1,1 poin menjadi 100,5. Hal ini mengindikasikan melemahnya persepsi konsumen dalam menilai perekonomian, terutama terkait kondisi ekonomi lokal dan ketersediaan lapangan kerja saat ini. Di sisi lain, optimisme terhadap prospek ekonomi dan pendapatan pada masa mendatang mengalami penguatan.

Penurunan IKK dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan pokok, terbatasnya lapangan kerja, serta tekanan pada sektor pertanian akibat kekeringan, gangguan produksi, gagal panen, dan penurunan harga jual hasil panen. Musim kemarau dan kekeringan yang masih terjadi pada bulan Agustus 2026 menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah pertanian. Namun, penurunan harga BBM dan normalisasi pasokan yang meredakan kekhawatiran terhadap kelangkaan BBM menahan pelemahan kepercayaan konsumen.

Ditinjau berdasarkan kelompok pendapatan, IKK pada sebagian kelompok pendapatan RT mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. IKK RT berpendapatan di atas Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan turun paling besar, yaitu sebesar 2,2 poin, diikuti IKK RT berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan yang turun sebesar 0,4 poin. Sebaliknya, IKK RT berpendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan mengalami peningkatan sebesar 3,4 poin dan IKK RT berpendapatan Rp3 juta hingga Rp7 juta per bulan naik 0,7 poin. IKK RT berpendapatan di atas Rp7 juta per bulan masih berada di atas level 100, menunjukkan kelompok ini masih optimis dalam menilai kondisi perekonomian. (Evi)
Share:

Tidak Penuhi SLHS, BGN Kembali Suspend 1.276 SPPG dan Usulkan Penutupan Ratusan Lainnya

Tidak Penuhi SLHS, BGN Kembali Suspend 1.276 SPPG dan Usulkan Penutupan Ratusan Lainnya. (Dok. BGN)

Jakarta, WaraWiri.net - Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mengambil langkah tegas dalam memastikan keamanan dan kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kembali menghentikan sementara operasional 1.276 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Penghentian sementara tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan pengawasan Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) BGN terhadap pemenuhan persyaratan higiene dan sanitasi SPPG.

Dari 1.276 SPPG yang dihentikan sementara, sebanyak 821 SPPG masih dalam proses pendaftaran SLHS, 447 SPPG telah melakukan pendaftaran tetapi tidak memenuhi syarat dan kelayakan, serta 8 SPPG belum terkonfirmasi status SLHS-nya.

Berdasarkan wilayah, SPPG yang dihentikan sementara terdiri atas 239 SPPG di Wilayah I (Sumatera), 927 SPPG di Wilayah II (Jawa), dan 110 SPPG di Wilayah III (di luar Sumatera dan Jawa).

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menegaskan bahwa keselamatan siswa sebagai penerima manfaat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan Program MBG. Karena itu, BGN mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional SPPG yang belum memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi.

“Kesehatan dan keselamatan penerima manfaat adalah prioritas utama. Kami tidak akan berkompromi terhadap standar kebersihan dan sanitasi. SLHS bukan sekadar persyaratan administratif, tetapi bagian penting untuk memastikan proses penyediaan makanan memenuhi standar higiene dan sanitasi,” ujar Ketut.

654 SPPG Diusulkan Ditutup Permanen

Ketegasan BGN tidak berhenti pada penghentian sementara. Ketut menyatakan bahwa Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN juga telah mengusulkan kepada pimpinan BGN agar 654 SPPG yang masuk kategori kritis ditutup secara permanen dalam waktu tujuh hari ke depan apabila tidak memenuhi ketentuan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 447 SPPG telah mendaftarkan SLHS tetapi terbukti tidak memenuhi syarat dan kelayakan, 199 SPPG belum melakukan pendaftaran SLHS, dan 8 SPPG belum mengonfirmasi status pendaftarannya.

Selain penindakan berupa suspend, BGN akan memperkuat pengawasan melalui pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) di SPPG berjalan sesuai ketentuan.

“Kami juga akan melakukan pengecekan langsung (on the spot) mengenai kelayakan dan standar dapur SPPG di seluruh Indonesia. Inspeksi ini bertujuan murni untuk memastikan kelayakan, kebersihan, serta penerapan SOP dilaksanakan dengan benar tanpa toleransi kesalahan,” tegas Ketut.

Di sisi lain, BGN memastikan penghentian sementara sejumlah SPPG tidak mengganggu keberlanjutan layanan pemenuhan gizi bagi masyarakat. Untuk itu, BGN telah menyiapkan mekanisme pengalihan sementara layanan dari SPPG yang dihentikan kepada SPPG terdekat yang telah memiliki SLHS dan memiliki kapasitas yang memadai.

Ia juga menegaskan bahwa penghentian sementara ini merupakan bentuk pembinaan terhadap SPPG. Status suspend akan dicabut apabila SPPG telah memiliki SLHS dan bisa kembali beroperasional sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

“Penghentian sementara ini merupakan bagian dari proses mitigasi risiko dan pembinaan. Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Dinas Kesehatan setempat untuk memfasilitasi pemenuhan standar bagi SPPG yang masih memiliki itikad untuk beroperasi sesuai ketentuan. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, operasional dapat dilanjutkan sesuai mekanisme yang berlaku,” pungkas Ketut. (Remondies)
Share:

BGN Siapkan Aplikasi Rating MBG, Sekolah Diminta Tak Segan Laporkan SPPG Bermasalah

BGN Siapkan Aplikasi Rating MBG, Sekolah Diminta Tak Segan Laporkan SPPG Bermasalah. (Dok. BGN)

Jakarta, WaraWiri.net - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian langsung terhadap layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani sekolah masing-masing. Melalui aplikasi tersebut, sekolah nantinya dapat memberikan rating sekaligus catatan mengenai kualitas layanan MBG.

Hal tersebut disampaikan Kepala BGN Sudaryono atau Mas Dar dalam Kick Off Webinar Literasi bagi Kepala Sekolah, Selasa (15/9).

Ia menjelaskan, sistem tersebut dirancang agar BGN memperoleh umpan balik langsung dari sekolah terkait pelaksanaan MBG di lapangan, mulai dari kualitas menu hingga ketepatan waktu pengiriman.

“Nantinya kami akan memberikan semacam aplikasi kepada Bapak-Ibu kepala sekolah, seperti di Ojek Online, seperti di GoFood, yang kemudian Bapak-Ibu guru itu bisa ngasih bintang, bisa ngasih catatan terhadap si dapur itu,” ujar Mas Dar.

Melalui sistem tersebut, kepala sekolah dapat memberikan penilaian berupa bintang terhadap berbagai aspek layanan yang diberikan oleh SPPG.

“Apakah menunya jelek, apakah suka terlambat, apakah kemudian lain sebagainya itu bisa kemudian diberi bintang, kemudian dikasih catatan,” katanya.

Menurutnya, aplikasi tersebut penting karena sekolah merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan layanan MBG dan peserta didik merupakan konsumen yang harus mendapatkan pelayanan yang sesuai. Karena itu, ia meminta kepala sekolah dan guru tidak segan menyampaikan keluhan maupun laporan apabila menemukan layanan yang tidak sesuai.

“Kami ingin lebih banyak mendapatkan feedback dari Bapak-Ibu kepala sekolah semua. Dan saya minta dan saya mohon kepada Bapak-Ibu kepala sekolah untuk tidak segan-segan melaporkan itu kepada kami,” tegasnya.

Ia juga meminta sekolah untuk tidak berhenti pada teguran kepada SPPG, apabila persoalan tidak segera diperbaiki maka sekolah bisa meyampaikan langsung kepadanya melalui email yang telah disediakan.

“Bapak-Ibu guru boleh protes ke SPPG-nya, tapi di-CC itu ditembuskan ke saya. Ada emailnya, sampaikan saja. Nggak perlu takut,” ujarnya.

BGN, kata dia, akan menindaklanjuti laporan yang masuk, terutama jika menyangkut ketidaksesuaian standar layanan dan keamanan pangan.

“Dapur itu memang tidak takut sama Kepala Sekolah, tapi dapur itu takutnya dengan BGN. Maka izinkan kami itu kemudian bisa terkoneksi dengan semua Kepala Sekolah yang ada di seluruh Indonesia,” katanya.

Ia berharap konektivitas tersebut membuat setiap komplain, masalah, maupun keluhan dari sekolah dapat segera diterima dan ditindaklanjuti BGN. (Remondies)
Share:

KKP - FAO Tingkatkan Kerja Sama Perikanan untuk Ketahanan Pangan

KKP - FAO Tingkatkan Kerja Sama Perikanan untuk Ketahanan Pangan. (Dok. KKP)

Jakarta, WaraWiri.net - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dan Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO), Dr Qu Dongyu membahas peluang penguatan kerja sama di sektor akuakultur dan perikanan budidaya di sela pertemuan Committee on Fisheries (COFI) ke-37 di Roma, Italia beberapa waktu lalu. 

Rencana penguatan kerja sama dua pihak sebagai solusi untuk meningkatkan produksi pangan bergizi, memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir, serta menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.

FAO menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas perikanan dan hasil laut bernilai tinggi yang memiliki prospek pasar internasional yang menjanjikan. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa dan sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan memperbaiki gizi masyarakat juga akan memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya global mengatasi tantangan pangan.

“Ketahanan pangan dan gizi di Indonesia bukan hanya isu nasional, tetapi juga bagian penting dari agenda global. Keberhasilan Indonesia akan menjadi kontribusi besar bagi dunia,” Qu sebagaimana disampaikan dalam rilis KKP di Jakarta, Rabu (16/9).

Qu turut menyampaikan apresiasinya terhadap kemajuan pembangunan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir serta optimisme terhadap visi pembangunan Indonesia menuju tahun 2045. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Qu pun mendorong pengembangan akuakultur berkelanjutan sebagai alternatif yang mampu memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat dibandingkan ketergantungan pada penangkapan ikan di alam. Pengembangan budidaya perikanan dinilainya dapat mendukung konservasi sumber daya laut sekaligus meningkatkan ketersediaan protein hewani bagi masyarakat.

Qu membagikan pengalaman sejumlah negara yang berhasil mengalihkan sebagian nelayan skala kecil ke kegiatan akuakultur melalui penguatan kelembagaan, pengembangan teknologi budidaya, serta model usaha berbasis kemitraan dan investasi bersama.

“Pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam membangun sistem produksi perikanan yang lebih efisien, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan sumber daya kelautan untuk generasi mendatang” ujarnya. 

Dalam pertemuan tersebut, Dirjen FAO membagikan pengalaman internasional terkait pemanfaatan instrumen kebijakan yang mendukung peningkatan kapasitas petani dan nelayan melalui pelatihan, pengendalian penyakit, pengembangan teknologi, serta pemberdayaan perempuan dan generasi muda.

Sementara itu, Menteri Trenggono menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor kelautan dan perikanan melalui penguatan perikanan budidaya, peningkatan produktivitas masyarakat pesisir, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.

Selain isu perikanan dan akuakultur, pembahasan turut mencakup pengelolaan sumber daya air sebagai bagian penting dari sistem pangan. Kedua pihak sepakat untuk terus mempererat kemitraan strategis antara Indonesia dan FAO guna mendukung pembangunan sektor kelautan, perikanan, pangan, dan sumber daya air yang produktif, inklusif, serta berkelanjutan baik di tingkat nasional maupun global. (Zidan)
Share:

Menteri Trenggono dan Menko Pangan Tinjau Mockup Tematik Mini RAS di Depok

Menteri Trenggono dan Menko Pangan Tinjau Mockup Tematik Mini RAS di Depok. (Dok. KKP)

Depok, WaraWiri.net - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, melakukan peninjauan mockup Program Budi Daya Tematik berbasis Sistem Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) di Depok, Jawa Barat, Selasa (15/9).

Peninjauan dilakukan untuk memastikan efektivitas pemodelan budidaya perikanan modern bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan itu, untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menteri Trenggono menjelaskan bahwa pengembangan Mini RAS bukan sekadar inovasi teknologi budidaya, melainkan sebuah strategi dalam membangun rantai pasok industri perikanan di tingkat desa. 

"Membangun Mini RAS adalah sebuah terobosan. Kita akan bangun di setiap desa, ada 40.000 titik kurang lebih se-Indonesia sampai tahun 2029, dan secara ekosistem dia akan membentuk mata rantai industri. Mulai dari benih, pakan, pengolahan, dan seterusnya," ujar Menteri Trenggono usai lakukan peninjauan. 

Dirinya menambahkan, pendekatan di sektor perikanan darat ini merupakan langkah baru yang diusung dalam agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

"Jadi mestinya ini adalah sebuah peluang, gitu ya. Maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun modelling yang seperti ini, tapi sekaligus juga menyambut untuk supaya industri pendukungnya ini berjalan," tambahnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu mengatakan pembangunan mock-up Mini RAS menjadi tahapan penting untuk memastikan desain, aspek teknis, dan keekonomian program matang sebelum diterapkan dalam skala besar.

“Mock-up ini menjadi langkah awal untuk memastikan program 40 ribu titik se-Indonesia hingga 2029 dapat berjalan sesuai yang direncanakan. Dari sini desain dan perhitungan keekonomiannya terus disempurnakan sebelum diterapkan secara lebih luas,” ujar Tebe. 

Pada 2026, KKP menargetkan pelaksanaan program di 4.000 titik di Pulau Jawa dan Lampung, yang dilakukan dalam dua tahap masing-masing 2.000 titik.

Berdasarkan hasil verifikasi awal KKP terhadap 5.051 desa di enam provinsi, yakni Banten, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, sebanyak 1.454 desa teridentifikasi siap dibangun, sementara lokasi lainnya terus melalui proses penyesuaian teknis dan evaluasi untuk memastikan kesiapan sesuai persyaratan program. (Zidan)
Share:

Dari Tiket Kertas hingga Satu Aplikasi, 81 Tahun Perjalanan KAI Mengubah Cara Masyarakat Bepergian

Dari Tiket Kertas hingga Satu Aplikasi, 81 Tahun Perjalanan KAI Mengubah Cara Masyarakat Bepergian. (Dok. KAI)

Jakarta, WaraWiri.net - Sebuah tiket kereta api menyimpan cerita panjang perjalanan masyarakat Indonesia. Dahulu, tiket menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang diperoleh langsung melalui loket stasiun. Kini, masyarakat dapat merencanakan perjalanan, membeli tiket, hingga mengakses berbagai layanan melalui satu aplikasi digital.

Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada 28 September 2026, KAI mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan transformasi layanan tiket yang berkembang mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan pelanggan.

Pada masa awal perkeretaapian Indonesia, stasiun menjadi pusat utama pelayanan perjalanan. Masyarakat datang langsung ke loket untuk memperoleh informasi jadwal, memilih perjalanan, melakukan pembayaran, dan mendapatkan tiket fisik sebagai tanda perjalanan.

Tiket pada masa tersebut menjadi bagian dari pengalaman masyarakat menggunakan kereta api. Informasi perjalanan tercetak pada lembar tiket yang dibawa pelanggan hingga menuju tujuan. Loket stasiun menjadi ruang interaksi antara petugas dan pelanggan sebelum perjalanan dimulai.

Seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, pelayanan tiket terus mengalami perkembangan. KAI mulai melakukan modernisasi sistem pelayanan melalui pemanfaatan teknologi reservasi untuk meningkatkan kemudahan akses masyarakat dalam memperoleh tiket perjalanan.

Perubahan berikutnya terjadi ketika layanan pembelian tiket mulai berpindah dari sistem tatap muka menuju kanal digital. Masyarakat mulai dapat melakukan pemesanan perjalanan melalui berbagai platform elektronik tanpa harus datang langsung ke stasiun.

Pada 2014, KAI menghadirkan aplikasi KAI Access sebagai langkah pengembangan layanan perjalanan berbasis digital. Kehadiran aplikasi tersebut menjadi bagian dari perubahan cara masyarakat melakukan pemesanan tiket kereta api.

Perjalanan transformasi digital kemudian berkembang melalui kehadiran Access by KAI sebagai platform yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan perjalanan pelanggan dalam satu aplikasi.

Melalui Access by KAI, pelanggan dapat melakukan pembelian tiket, melihat jadwal perjalanan, memilih tempat duduk, memperoleh informasi perjalanan, menggunakan fitur Trip Planner, hingga mengakses berbagai layanan pendukung perjalanan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkembangan layanan tiket menggambarkan bagaimana kereta api terus mengikuti perubahan masyarakat.

“Perjalanan tiket kereta api menjadi bagian dari cerita panjang transformasi KAI. Dari pelayanan melalui loket stasiun hingga layanan digital dalam satu aplikasi, setiap tahap menunjukkan bagaimana KAI terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelanggan,” ujar Anne.

Perubahan perilaku pelanggan terlihat dari tingginya penggunaan layanan digital. Pada Semester I 2026, Access by KAI mencatat 17.009.374 transaksi tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal, atau sekitar 76,34 persen dari total transaksi melalui seluruh kanal penjualan.

Dari sisi penjualan tiket, Access by KAI melayani 24.544.468 tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal pada Semester I 2026, atau sekitar 73,68 persen dari total penjualan tiket layanan tersebut.

Perkembangan penggunaan aplikasi juga terlihat dari jumlah pengguna. Hingga 30 Juni 2026, Access by KAI memiliki 30.449.049 pengguna terdaftar, dengan total unduhan mencapai 41.011.320 kali.

Transformasi layanan perjalanan kemudian berkembang menuju pengalaman yang semakin praktis melalui teknologi digital lainnya. Salah satunya adalah Face Recognition Boarding Gate yang memungkinkan proses boarding dilakukan secara lebih mudah. Pada Semester I 2026, fasilitas tersebut telah digunakan oleh 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh.

Anne Purba menyampaikan bahwa perkembangan layanan tiket merupakan bagian dari perjalanan panjang menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kereta api tumbuh bersama perubahan zaman. Tiket yang dahulu menjadi lembar perjalanan fisik kini berkembang menjadi layanan digital yang membantu pelanggan merencanakan perjalanan secara lebih mudah,” kata Anne.

Selama 81 tahun perjalanan KAI, perubahan sistem tiket menjadi salah satu bagian yang merekam perkembangan perkeretaapian Indonesia. Dari loket stasiun, sistem reservasi, tiket elektronik, hingga Access by KAI, setiap inovasi menjadi bagian dari perjalanan panjang menghadirkan layanan kereta api yang semakin dekat dengan masyarakat. (Burhan)
Share:

Panen 35 Ikat Sayuran Hidroponik, Lapas Bandanaira Perkuat Program Ketahanan Pangan

Panen 35 Ikat Sayuran Hidroponik, Lapas Bandanaira Perkuat Program Ketahanan Pangan. (Dok. Ditjenpas)

Banda Neira, WaraWiri.net - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Bandanaira panen sayuran hasil budidaya hidroponik di area brandgang, Rabu (16/9). Kegiatan panen diikuti Kepala Lapas Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, bersama Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda, pejabat struktural, peserta magang, serta Warga Binaan yang terlibat dalam pembinaan kemandirian di bidang pertanian.

Sebanyak 35 ikat sayuran berhasil dipanen, terdiri atas 15 ikat kangkung dan 20 ikat selada. Kedua jenis sayuran tersebut dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik sebagai salah satu upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas di Lapas Bandanaira.

Selain mendukung program ketahanan pangan, budidaya hidroponik menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan melalui kegiatan pertanian yang produktif. Kegiatan tersebut juga memberi pengalaman dan keterampilan yang dapat dikembangkan Warga Binaan.

Abdul Samad Rumuar menyampaikan apresiasi atas hasil panen yang diperoleh.

“Alhamdulillah, hari ini kami bisa melaksanakan panen sayuran dengan hasil yang sangat memuaskan. Kali ini kami memanen kangkung dan selada. Saya sangat bersyukur karena tanaman yang dirawat dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang cukup bagus. Semoga kegiatan ini dapat terus dilakukan dan memberikan manfaat, serta menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kegiatan pertanian di sini,” ujar Samad.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda, Alwi Arif, menilai keberhasilan panen hidroponik merupakan hasil dari konsistensi dan kedisiplinan dalam merawat tanaman.

“Keberhasilan panen hidroponik kita bukan karena keajaiban, tetapi karena konsistensi setiap hari. Memeriksa air, nutrisi, dan kebersihan adalah latihan kedisiplinan. Jika kita mampu bertanggung jawab pada tanaman ini, kita pasti bisa menata masa depan yang lebih baik di luar sana,” ungkap Alwi.

Salah satu Warga Binaan, Adi, turut menyampaikan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Menurutnya, kegiatan tersebut memberi pengalaman dalam merawat tanaman hingga siap dipanen.

“Alhamdulillah, saya senang bisa ikut merawat tanaman sampai akhirnya dapat dipanen. Dari kegiatan ini saya belajar lebih teliti dan bertanggung jawab dalam merawat tanaman,” ujarnya.

Lapas Bandanaira terus mendorong pembinaan kemandirian melalui kegiatan pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Budidaya hidroponik diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi Warga Binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya penguatan kemandirian pangan melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan yang belum produktif. (Alif)
Share:

MNK Rokan: Tonggak Baru Pionir Pengembangan MNK Indonesia Oleh Pertamina

MNK Rokan: Tonggak Baru Pionir Pengembangan MNK Indonesia Oleh Pertamina. (Dok. Pertamina)

Jakarta, WaraWiri.net - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina menegaskan langkah strategis pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) di Zona Rokan melalui penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan lewat anak usahanya PT PHE Rokan Nonkonvensional. Momentum ini menandai era baru energi Indonesia, dengan MNK Rokan sebagai pionir proyek pengembangan MNK di Indonesia.

Pengembangan MNK menjadi bagian dari strategi jangka panjang PHR untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah tantangan lapangan migas konvensional yang semakin mature, sekaligus membuka sumberdaya migas baru bagi ketahanan energi nasional. Perjalanan MNK Rokan dimulai dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari upaya studi potensi migas non-konvensional di struktur North Aman.

Keberhasilan Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1 berdasarkan hasil pemboran dan pengujian yang telah dilakukan semakin memperkuat keyakinan PHR terhadap potensi pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) di struktur North Aman. Struktur ini diperkirakan memiliki sumber daya terambil ( recoverable resources ) diperkirakan mencapai 724 juta barel setara minyak (MMBOE), yang menjadi dasar bagi PHR untuk melanjutkan tahapan appraisal guna mengonfirmasi besaran sumber daya dan potensi pengembangannya. North Aman menjadi fondasi awal pengembangan MNK yang lebih luas di Wilayah Kerja Rokan, dengan peluang pengembangan pada struktur lain seperti South Aman, Rangau, dan Balam.

Keunggulan ekosistem operasional Zona Rokan, mulai dari keberadaan infrastruktur produksi, fasilitas pendukung, akses operasional, serta ekosistem rantai pasok yang telah berkembang di Zona Rokan menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan MNK Rokan secara bertahap.

Pengembangan MNK tidak hanya membutuhkan penerapan teknologi yang kompleks, tetapi juga dukungan dari berbagai komponen ekosistem MNK. Hadirnya Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 246.K/MG.04/MEM.M/2026 mengenai Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Wilayah Kerja Rokan, memberi kepastian regulasi dan fiskal bagi kontraktor, serta kemudahan komersialisasi produksi MNK. Termasuk di dalamnya, skema cost recovery dengan split adaptif dan insentif investasi. Skema ini dirancang guna menyeimbangkan daya tarik investasi dengan penerimaan negara, sekaligus memastikan keberlanjutan proyek jangka panjang.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan bahwa pengembangan MNK Rokan merupakan langkah penting untuk membuka sumber pertumbuhan produksi baru di tengah semakin matangnya lapangan-lapangan konvensional.

Menurutnya, potensi sumber daya yang besar harus dapat diterjemahkan menjadi cadangan dan produksi nyata melalui percepatan appraisal, penerapan teknologi yang tepat, serta dukungan keekonomian dan regulasi yang kompetitif.

“Rokan kita dorong menjadi pionir sekaligus pembuktian bahwa Migas Non Konvensional dapat dikembangkan secara komersial di Indonesia,” kata Djoko.

"Potensinya sudah kita lihat, regulasi dan insentif juga telah disiapkan. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana seluruh tahapan dapat berjalan lebih cepat sampai menghasilkan produksi. Kalau MNK Rokan berhasil, ini akan membuka jalan bagi pengembangan potensi MNK di wilayah lain dan menjadi sumber baru untuk mendukung peningkatan produksi serta ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menegaskan bahwa MNK Rokan merupakan langkah awal untuk membangun kapabilitas dan ekosistem Migas Non Konvensional Indonesia.

“Yang kita bangun bukan hanya sumurnya, tetapi ekosistemnya. MNK membutuhkan integrasi kemampuan subsurface, drilling dan completion, stimulasi, teknologi, supply chain, serta sumber daya manusia yang berbeda dari pengembangan migas konvensional. Rokan menjadi starting point bagi Pertamina dan Indonesia untuk membangun learning curve tersebut,” ujar Oki.

“Jika ekosistem ini berhasil kita bangun dan keekonomiannya semakin kompetitif, model yang dikembangkan di Rokan dapat direplikasi ke potensi MNK lainnya. Inilah langkah awal menuju pengembangan MNK Indonesia dalam skala yang lebih besar,” tambahnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Sunaryanto mengatakan sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE optimistis pengembangan MNK di Indonesia akan berkontribusi signifikan terhadap produksi minyak nasional di masa mendatang. 

"Pengembangan MNK memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi minyak di dalam negeri," ujarnya.

Direktur Utama PHR Muhamad Arifin melihat momen penandatanganan KBH MNK Rokan adalah langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional.

“MNK bukan hanya proyek eksplorasi, melainkan fondasi baru yang akan menjadi investasi strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan membangun kompetensi baru di hulu migas di Indonesia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dengan dukungan regulasi, ekosistem operasional yang mumpuni, serta roadmap jelas menuju tahap komersialisasi, MNK Rokan sebagai game changer akan membuka harapan baru bagi industri energi Indonesia. Keberhasilan ini akan menjadi referensi penting bagi pengembangan sumber migas non-konvensional di wilayah lain.

Dengan langkah ini, PHR menegaskan komitmen untuk menghadirkan inovasi, memperkuat ketahanan energi, dan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional.

Subholding Upstream Pertamina akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas yang berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Subholding Upstream Pertamina juga senantiasa menjunjung tinggi integritas melalui penguatan budaya kepatuhan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta upaya pencegahan fraud untuk mewujudkan lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan beretika. (Iqbal)
Share:

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG. (Dok. Pertamina)

Jakarta, WaraWiri.net - PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi ketahanan energi nasional melalui pengelolaan portofolio LNG yang semakin fleksibel dan terintegrasi, dengan mengombinasikan sumber pasokan domestik dan global serta didukung infrastruktur LNG dan gas di berbagai wilayah Indonesia.

Strategi tersebut menjadi salah satu fokus yang dibawa Pertamina dalam Gastech 2026 di Bangkok, Thailand. Kehadiran Pertamina dalam forum energi global ini menjadi bagian dari upaya memperluas konektivitas dengan pelaku industri energi dunia, sekaligus memperkuat peluang pengembangan portofolio dan bisnis LNG di tengah perubahan lanskap energi global.

Volatilitas pasar, dinamika geopolitik, serta pertumbuhan kebutuhan energi membuat ketahanan energi tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya volume pasokan, tetapi juga kemampuan untuk memperoleh sumber energi yang tepat, pada waktu dan lokasi yang tepat, dengan biaya yang kompetitif.

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron mengatakan, diversifikasi sumber dan fleksibilitas portofolio menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi di tengah dinamika pasar global.

“Bagi Pertamina, ketahanan energi bukan hanya mengenai seberapa besar pasokan yang tersedia, tetapi juga kemampuan untuk mendapatkan energi dari sumber yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan biaya yang kompetitif. Karena itu, diversifikasi sumber dan fleksibilitas portofolio LNG menjadi penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Baron.

Untuk meningkatkan fleksibilitas tersebut, Pertamina mengembangkan portofolio LNG dari berbagai sumber. Selain mengoptimalkan pasokan domestik, Pertamina memiliki portofolio internasional, antara lain dari Australia dan Amerika Serikat. Diversifikasi ini memberikan ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan sumber pasokan dan pola pengiriman sesuai kebutuhan, kondisi pasar, serta pertimbangan keekonomian.

Fleksibilitas pasokan tersebut diperkuat dengan infrastruktur LNG dan gas Pertamina Group, antara lain Perta Arun Gas, Nusantara Regas, fasilitas penerimaan LNG Jawa-1, serta jaringan pipa gas PGN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Integrasi antara sumber pasokan, infrastruktur penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi, jaringan pipa, serta distribusi menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok LNG yang lebih adaptif. Dengan ekosistem tersebut, LNG dapat dikelola sesuai kebutuhan, mulai dari penerimaan dan penyimpanan hingga regasifikasi dan distribusi ke berbagai wilayah.

“Pertamina memiliki portofolio LNG dan infrastruktur gas yang saling melengkapi. Integrasi dari sumber pasokan, fasilitas penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi hingga jaringan distribusi memberikan fleksibilitas bagi Pertamina untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan energi di berbagai wilayah,” jelas Baron.

Salah satu infrastruktur yang memiliki posisi strategis adalah Perta Arun Gas di Aceh. Berada di Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi utama dunia, Arun memiliki peluang untuk berkembang sebagai hub LNG regional yang menghubungkan pasokan internasional dengan kebutuhan Indonesia maupun pasar di Asia Tenggara.

Posisi tersebut memberikan berbagai opsi pengelolaan LNG, mulai dari menerima dan menyimpan LNG hingga reload, transhipment, regasifikasi dan distribusi. Fleksibilitas ini memungkinkan pengelolaan LNG disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan pertimbangan keekonomian.

Penguatan portofolio dan infrastruktur menjadi semakin relevan seiring perubahan lanskap LNG Indonesia. Di tengah pertumbuhan kebutuhan energi dan industri, Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir LNG juga menghadapi potensi peningkatan kebutuhan LNG domestik pada masa mendatang.

Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan menghubungkan pasokan global, produksi LNG domestik, infrastruktur nasional dan kebutuhan regional, Pertamina dapat mengoptimalkan portofolio LNG sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok LNG.

Menurut Baron, strategi LNG Pertamina ke depan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan volume, tetapi juga pada kemampuan mengelola dan mengoptimalkan pasokan secara fleksibel untuk memberikan nilai yang lebih besar.

“Ke depan, yang menjadi pembeda bukan hanya kemampuan memperoleh LNG, tetapi kemampuan mengelola, mengoptimalkan dan menyalurkannya ke tempat yang memberikan manfaat terbesar. Pertamina ingin menghubungkan pasokan LNG global dengan ketahanan energi Indonesia sekaligus menangkap peluang pertumbuhan,” tutup Baron. (Iqbal)
Share:

Gubernur BI Lantik Pemimpin Satuan Kerja Bank Indonesia

Gubernur BI Lantik Pemimpin Satuan Kerja Bank Indonesia. (Dok. Bank Indonesia)

Jakarta, WaraWiri.net - Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, melantik Mal Isnaini S. Meyyanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola, menjadi Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial, pada tanggal 15 September 2026 di Jakarta.

Pelantikan tersebut merupakan bagian dari penguatan organisasi untuk memastikan kesinambungan pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sekaligus turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa mandat Bank Indonesia yang semakin luas perlu diiringi dengan penguatan tanggung jawab kelembagaan, tata kelola, dan kepemimpinan. Dalam menjalankan mandat tersebut, sinergi antara Bank Indonesia dan mitra strategis perlu terus diperkuat agar dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi sesuai kewenangan masing-masing.

Gubernur Bank Indonesia juga mengarahkan agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia berpegang pada tiga prinsip, yaitu berdampak nyata, inklusif, dan terintegrasi, yang diwujudkan melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Sejalan dengan itu, para pemimpin Bank Indonesia diharapkan menerapkan kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap berbagai pandangan, serta memberikan ruang bagi seluruh anggota organisasi untuk berkontribusi. Penguatan kelembagaan, kepemimpinan, dan sinergi menjadi fondasi penting bagi Bank Indonesia dalam menjalankan mandat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. (Putra)
Share:

Wamen Diaz Dorong Pemanfaatan Air Hasil Pengolahan Limbah Cair untuk Pembasahan

Wamen Diaz Dorong Pemanfaatan Air Hasil Pengolahan Limbah Cair untuk Pembasahan. (Dok. Kemen LH)

Kalimantan Timur, WaraWiri.net - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, meninjau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Senin (14/9/2026), dan mendorong pemanfaatan hasil pengolahan limbah air untuk menjadi metode pembasahan TPA yang sudah menumpuk.

“Saya lihat di TPA ini sudah ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), IPAL ini sudah terkelola dengan baik, sehingga bagaimana caranya kita bisa menggunakan air yang sudah terkelola di IPAL ini agar dijadikan sumber air untuk pembasahan TPA secara berkala,” tutur Wamen Diaz.

Kunjungan Wamen Diaz dilakukan dalam rangka meninjau pelaksanaan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2026 tentang Peningkatan Kesiapsiagaan dan Antisipasi Kebakaran di TPA pada Kondisi Cuaca Panas Ekstrem. Surat edaran tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah, khususnya gubernur, bupati, dan wali kota, sebagai langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mengantisipasi potensi kebakaran di TPA di tengah kondisi cuaca ekstrem.

“Sekarang lagi ada El Niño dan pemanasan global, sehingga kebakaran itu bisa terjadi dengan lebih mudah, dengan Surat Edaran dari Menteri LH, Pemda diarahkan untuk membasahi sampah di TPA yang sudah menumpuk,” tegas Wamen Diaz.

Selain meninjau pengelolaan air limbah, Wamen Diaz juga mengingatkan pentingnya keselamatan pemulung yang beraktivitas di area TPA dengan menghindari zona aktif atau gunungan-gunungan sampah yang sudah tinggi untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan mendorong Pemda untuk melakukan himbauan.

“Dari sisi pemulung, mohon nanti diperhatikan lagi, jangan sampai ada pemulung di zona aktif, keselamatan pemulung harus menjadi prioritas kita semua, saya yakin dari provinsi dan kota juga memiliki kepentingan untuk memastikan keselamatan pemulung, jadi mohon bersama kita perhatikan keselamatan warga Samarinda yang kerja di TPA,” ujar Wamen Diaz.

TPA Sambutan memiliki dua zona, yakni zona pertama yang telah ditutup sejalan dengan larangan praktik open dumping, serta zona kedua yang baru mulai beroperasi pada Juli 2026 secara controlled landfill. Selain itu, TPA Sambutan telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), yang direncanakan mengolah sampah dengan kapasitas kurang dari 1.000 ton per hari jika nantinya telah difasilitasi oleh regulasi. (Siti)
Share:

Presiden Prabowo Tekankan Pentingnya Pembangunan dan Transformasi Bangsa

Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan. (Dok. BPMI Setpres)

Jakarta, WaraWiri.net - Presiden Prabowo Subianto menyebut peresmian layanan LRT Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai sebagai langkah penting dalam pembangunan dan transformasi bangsa, khususnya dalam mengelola kawasan metropolitan Jakarta Raya dan Jabodetabek yang memiliki populasi sekitar 42 juta jiwa.

Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan LRT Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta, pada Rabu, 16 September 2026.

“Bahwa kita bisa mengelola suatu aglomerasi, suatu metropolitan sebesar ini, 42 juta. Mungkin lebih besar dari banyak negara di dunia. Kita bisa mengelola dengan aman, dalam suasana demokratis, tapi tertib,” ujar Presiden Prabowo.

Menurut Kepala Negara, pembangunan dan pengelolaan Jakarta Raya juga menjadi contoh penting mengenai bagaimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat. Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa jabatan yang diemban para pemimpin merupakan mandat untuk melayani rakyat.

“Kita pelayan rakyat, kita petugasnya rakyat. Pikiran kita, tenaga kita, upaya kita, semuanya untuk rakyat Indonesia,” imbuh Presiden Prabowo.

“Selama kita mau menerima mandat ini, selama kita mau menerima kehormatan melayani rakyat Indonesia, selama itu kita harus bekerja hanya untuk kepentingan yang besar, kepentingan bangsa, kepentingan rakyat,” ucap Kepala Negara.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo pun menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia akan terus bangkit di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dan bergerak menuju cita-cita para pendiri bangsa.

“Saya yakin itu, sebentar lagi Indonesia dengan segala masalahnya kita akan bangkit dan kita akan menuju cita-cita pendiri-pendiri bangsa kita,” pungkas Presiden Prabowo.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga mengatakan kerja sama dan semangat gotong royong antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan perekonomian. Kepala Negara menyinggung laporan mengenai pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta serta meningkatnya aktivitas perusahaan dan investasi di wilayah tersebut.

“Tadi dilaporkan oleh Gubernur, pertumbuhan DKI meningkat, perusahaan-perusahaan yang tadi agak lesu sekarang bangkit, investasi naik luar biasa. Jadi ini menunjukkan bila pemimpin-pemimpin bisa kerja sama, bisa gotong royong dan harus gotong royong, tapi bisa dan mau gotong royong, mau kerja sama, bangsa ini akan bangkit menjadi bangsa yang luar biasa. Saya yakin itu,” ucap Kepala Negara.

Dalam laporannya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melaporkan bahwa perekonomian Jakarta terus menunjukkan pertumbuhan positif. Menurut Gubernur, peningkatan tersebut menunjukkan tumbuhnya perekonomian Jakarta sekaligus mencerminkan kepercayaan investor terhadap kondisi Jakarta yang aman dan nyaman.

“Jakarta triwulan ini tumbuh 5,52 persen, inflasi 2,5 persen, dan Jakarta memberikan kontribusi bagi perekonomian kita 16,32 persen. Yang juga menggembirakan Bapak Presiden, kalau dulu di tahun 2021 selama satu tahun penuh investasi Jakarta itu Rp103 triliun, dalam era 2 tahun ini dalam kepemimpinan Bapak, Jakarta tumbuh 162 persen. Di tahun 2025, investasi di Jakarta 270 triliun, bahkan di triwulan kedua tahun ini di tahun 2026 Jakarta investasinya 173 triliun,” ungkap Pramono. (Dinda)
Share:

Presiden Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai, Perkuat Simpul Transportasi Terpadu Jakarta

Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan. (Dok. BPMI Setpres)

Jakarta, WaraWiri.net - Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta Selatan, pada Rabu, 16 September 2026. Kehadiran jalur sepanjang 12,2 kilometer tersebut diharapkan semakin memperkuat layanan transportasi publik sekaligus mendukung mobilitas masyarakat di Jakarta.

Setibanya di Stasiun LRT Manggarai, Presiden Prabowo terlebih dahulu menerima laporan dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengenai pembangunan dan rencana pengoperasian LRT Jakarta. Gubernur Pramono menyampaikan bahwa proyek tersebut sepenuhnya dibangun oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai badan usaha milik daerah (BUMD) dengan menggunakan anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“LRT dari Kelapa Gading sampai dengan Manggarai ini panjangnya 12,2 kilometer, investasinya Rp12,1 triliun. Dalam satu trainset 270 penumpang dan rencananya, Bapak Presiden, kalau ini sudah dijalankan maka hariannya kurang lebih 80 ribu penumpang setiap harinya,” ujar Gubernur Pramono.

Gubernur Pramono turut melaporkan kebijakan tarif khusus yang akan diberlakukan selama delapan hari pertama setelah peresmian. Dalam periode tersebut, masyarakat dapat menggunakan layanan LRT Jakarta dengan tarif sebesar Rp8 sebagai bagian dari sosialisasi kepada masyarakat.

“Saya yakin dengan sosialisasi selama delapan hari ini, pasti masyarakat akan merasakan kenyamanan menggunakan LRT Jakarta ini,” ungkap Gubernur Pramono.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan hingga penyelesaian LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai. Kepala Negara juga menyampaikan rasa bangga atas perkembangan sistem transportasi publik di Indonesia yang terus mengalami kemajuan secara bertahap.

“Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan saya. Hari ini adalah hari yang membanggakan, bahwa bangsa kita terus teratur, mungkin tidak fantastis, tapi kita maju setapak demi setapak, demi setapak. Tadi dikatakan 5, 6 tahun yang lalu atau 10 tahun yang lalu, siapa mengira kita bisa punya sistem transportasi seperti sekarang,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo menuturkan bahwa keberadaan LRT semakin melengkapi berbagai moda transportasi yang telah tersedia di kawasan Manggarai. Integrasi tersebut menjadikan Manggarai sebagai salah satu pusat pertemuan berbagai layanan transportasi publik di Jakarta dan kawasan sekitarnya.

“Ini di Manggarai ada LRT, ada KRL, ada TransJakarta, ada Trans Jabodetabek, kereta ke bandara. Ini menjadi transport hub,” tutur Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo kemudian meresmikan pengoperasian LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai. Saat peresmian, Presiden Prabowo tampak didampingi oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, serta Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin.

“Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Rabu, 16 September 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading–Manggarai,” ucap Presiden.

Peresmian tersebut menandai babak baru pengembangan transportasi massal Jakarta sekaligus memperkuat komitmen pemerintah menghadirkan layanan publik yang semakin terintegrasi, terjangkau, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Dinda)
Share:

Datangi Rutan Pondok Bambu, Ombudsman RI Soroti Kualitas Layanan, Kelebihan Kapasitas dan Pemenuhan Hak Warga Binaan

Anggota Ombudsman RI, Syafrida R Rasahan saat melakukan pemantauan di Lapas Kelas I Pondok Bambu. (Dok. Ombudsman RI)

Jakarta, WaraWiri.net - Anggota Ombudsman RI, Syafrida R. Rasahan meninjau langsung Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Selasa (15/9/2026).

Kunjungan dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk memastikan pelayanan kepada warga binaan berjalan sesuai standar, sekaligus menindaklanjuti berbagai keluhan masyarakat mengenai akses dan kualitas layanan di Rutan Pondok Bambu.

"Ombudsman RI ingin memastikan setiap warga binaan memperoleh pelayanan yang layak, setara, transparan, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kami juga ingin mengonfirmasi berbagai keluhan yang berkembang di masyarakat, termasuk mengenai adanya layanan yang diduga disertai pembebanan biaya di luar ketentuan," ujar Syafrida.

Syafrida menegaskan bahwa setiap layanan kepada warga binaan harus memiliki kepastian prosedur, waktu, persyaratan, dan biaya. Apabila terdapat layanan yang memerlukan biaya, informasi tersebut harus disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat maupun warga binaan tidak berada dalam posisi yang tidak pasti atau merasa harus mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak layanan yang seharusnya diterima.

"Yang ingin kami pastikan bukan hanya tidak adanya biaya di luar ketentuan, tetapi juga tidak boleh ada warga binaan yang merasa bahwa pelayanan menjadi lebih mudah karena memberikan sesuatu atau karena memiliki kemampuan untuk membayar. Pelayanan harus diberikan secara adil dan setara kepada semua warga binaan," tegas Syafrida.

Ombudsman juga melakukan pengecekan di Blok Mapenaling untuk memastikan penempatan tahanan sesuai dengan ketentuan dan tidak terdapat perlakuan berbeda terhadap tahanan tertentu. Pemantauan ini penting untuk memastikan bahwa seluruh warga binaan memperoleh perlakuan yang setara dan tidak terdapat layanan atau fasilitas tertentu yang hanya dapat diakses melalui mekanisme di luar ketentuan.

Selain persoalan akses dan kualitas layanan, Ombudsman RI menemukan sejumlah persoalan lain dalam penyelenggaraan pelayanan di Rutan Kelas I Pondok Bambu, salah satunya terkait pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan berupa air bersih. Di Blok Cempaka, Ombudsman mendapati adanya kamar yang mengalami gangguan ketersediaan air. Ombudsman juga menemukan kondisi air yang diduga tercemar dan dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan kulit warga binaan.

"Air bersih bukan sekadar fasilitas pendukung, tetapi merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan dan martabat warga binaan. Karena itu, persoalan ini perlu segera diselesaikan dan tidak boleh dibiarkan berlarut," ujar Syafrida.

Ombudsman RI juga menyoroti kondisi hunian yang belum sebanding dengan kapasitas Rutan. Rutan Kelas I Pondok Bambu memiliki kapasitas 411 warga binaan, sementara saat ini dihuni 525 warga binaan aktif atau sekitar 27 persen di atas kapasitas yang tersedia. Dalam pemantauan, Ombudsman juga mendapati jumlah penghuni dalam satu kamar bervariasi antara 3 hingga 17 orang. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kepadatan hunian berpengaruh terhadap kualitas pelayanan, kesehatan, kenyamanan, serta pemenuhan hak dasar warga binaan.

Lebih lanjut, Ombudsman RI akan menindaklanjuti hasil pemantauan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki dan mendorong Rutan Pondok Bambu serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk segera melakukan perbaikan terhadap persoalan yang ditemukan.

Perbaikan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyelesaikan persoalan yang ditemukan saat pemantauan, tetapi juga memastikan tersedianya sistem pelayanan yang transparan, mudah diakses, bebas dari perlakuan berbeda, serta mampu mencegah terjadinya pembebanan biaya di luar ketentuan. Dengan demikian, pemenuhan hak warga binaan tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. (Fathi)
Share:

Bawas MA Didesak Percepat Penanganan Laporan Hakim Sengketa Tanah

Anggota Komisi III DPR RI Teuku Ibrahim saat mengikuti RDP/Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI dengan Bawas MA serta Atalarik Syach dan kuasa hukumnya, di Nusantara II, Senayan, Jakarta. (Dok. DPR RI)

Jakarta, WaraWiri.net - Anggota Komisi III DPR RI Teuku Ibrahim mendesak Badan Pengawas Mahkamah Agung (Bawas MA) mempercepat penanganan laporan masyarakat terkait dugaan ketidakadilan dalam perkara sengketa tanah. Ia menilai, lambannya tindak lanjut laporan dapat membuat masyarakat semakin dirugikan, terlebih ketika hakim yang dilaporkan telah dimutasi atau pensiun.

Hal itu disampaikan Teuku Ibrahim saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP)/Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI dengan Bawas MA serta Atalarik Syach dan kuasa hukumnya, di Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026). Rapat tersebut membahas aspirasi dan pengaduan masyarakat terkait permasalahan sengketa tanah.

Dirinya menyoroti adanya pemegang Sertifikat Hak Milik (SHM) yang diterbitkan negara, tetapi tanahnya tetap dapat disita berdasarkan putusan hakim. Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai perlindungan hak masyarakat yang telah memiliki bukti kepemilikan sah.

“Beliau memegang bukti sah yang dikeluarkan oleh negara. Tapi anehnya, bisa disita, malah bisa disita oleh hakim. Dan hakim tersebut sudah dilaporkan ke Badan Pengawas,” ujar Tueku.

Ia menyebut, hakim yang dilaporkan dalam perkara tersebut bahkan telah mengalami pergantian, tetapi belum ada keputusan yang jelas dari Bawas MA. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih cepat agar masyarakat memperoleh kepastian hukum.

“Kenapa begitu lamanya kalau masyarakat melapor kepada Badan Pengawas? Sampai masyarakat kita terusir, terzalimi. Tapi dari keputusan Badan Pengawas untuk menindak hakim-hakim yang memberi keputusan tidak adil itu, sampai sudah dipindahkan ataupun sudah pensiun, belum ada keputusan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Legislator Fraksi Partai Demokrat ini mengungkapkan bahwa ia juga menerima pengaduan serupa dari masyarakat yang mengaku memiliki SHM, tetapi tanahnya kemudian disita. Ia menilai, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena masyarakat yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk menyewa pengacara kerap kesulitan memperjuangkan haknya.

“Kalau masyarakat mampu membayar lawyer, mungkin bisa. Tapi juga banyak masyarakat kita yang tidak mampu. Akhirnya hak milik mereka disita percuma. Ini mohon keadilannya, Pak. Berdasarkan waktu pelaporan ini, mohon ditindaklanjuti cepat,” pungkasnya. (Budi)
Share:

BKSAP dan Australia Perkuat Kerja Sama Demokrasi serta Kapasitas Anggota DPR

Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat, didampingi pimpinan BKSAP DPR berfoto bersama dengan pihak Kedubes Australia, Counsellor (Political) Robert Sutton dan Second Secretary (Political) Kate Fletcher di Gedung DPR, Jakarta. (Dok. DPR RI)

Jakarta, WaraWiri.net - Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI menerima audiensi Minister Counsellor Politik dan Komunikasi Strategis Kedutaan Besar Australia, Nicola Campion, guna membahas penguatan kerja sama di bidang demokrasi, diplomasi parlemen, serta peningkatan kapasitas anggota DPR RI.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Diplomasi BKSAP, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026) tersebut dipimpin Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat, didampingi Wakil Ketua BKSAP DPR RI Ravindra Airlangga dan Muhammad Husein Fadlulloh. Dari pihak Kedutaan Besar Australia hadir Counsellor (Political) Robert Sutton dan Second Secretary (Political) Kate Fletcher.

Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat menjelaskan, salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah dukungan Australia terhadap berbagai program penguatan demokrasi di Indonesia melalui skema hibah yang melibatkan organisasi masyarakat sipil.

“Australia juga menyampaikan adanya dukungan program yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Australia untuk peningkatan kualitas demokrasi Indonesia. Ada semacam dana hibah yang bermitra dengan masyarakat sipil, yaitu NGO-NGO yang memiliki perhatian terhadap isu demokrasi. Hibah itu kemudian digunakan untuk berbagai diskusi dan program-program penguatan demokrasi,” ujar Politisi Fraksi PKS ini.

Selain itu, kedua belah pihak juga membahas program pertukaran anggota parlemen sebagai upaya memperkuat kapasitas legislator Indonesia melalui berbagi pengalaman dengan Parlemen Australia.

“Program berikutnya yang dibicarakan adalah pertukaran anggota DPR. Nantinya anggota DPR diundang ke Australia untuk melihat secara langsung pola kerja anggota parlemen di sana. Ini diharapkan dapat memperkaya wawasan anggota DPR kita,” katanya.

Menurut Syahrul, program tersebut akan diprioritaskan bagi anggota DPR RI yang baru menjalani masa jabatan pertamanya agar memperoleh pengalaman mengenai praktik-praktik parlemen di negara lain.

“Nanti akan ada satu sampai dua orang dari setiap fraksi, khususnya anggota DPR yang baru menjabat pertama kali. Program ini diharapkan dapat memperkaya dan memperluas wawasan anggota DPR kita,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Australia juga menyampaikan harapan agar Indonesia memberikan dukungan terhadap Ketua Parlemen Australia dalam Inter-Parliamentary Union (IPU) mendatang. Menurut Syahrul, hal tersebut merupakan bagian dari komunikasi antarlembaga legislatif yang terus dibangun dalam memperkuat hubungan bilateral dan kerja sama antarparlemen. (Budi)
Share:

Senator Agita Dorong Kepastian Masa Depan Lulusan Sekolah Rakyat dan Perbaikan Akses KIP Kuliah

Senator Agita Dorong Kepastian Masa Depan Lulusan Sekolah Rakyat dan Perbaikan Akses KIP Kuliah. (Dok. DPD RI)

Jakarta, WaraWiri.net - Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Daerah Pemilihan Jawa Barat (Jabar) Agita Nurfianti mendorong pemerintah memastikan keberlanjutan pendidikan dan masa depan siswa Sekolah Rakyat, khususnya mereka yang telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA.

Hal tersebut disampaikan Agita dalam Rapat Kerja Komite III DPD RI dengan Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (14/9), yang membahas terkait inventarisasi materi pengawasan atas program sekolah rakyat; permasalahan terkait Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penentuan desil; serta Program Kerja Kemensos RI Tahun 2027 dan kolaborasi dengan Komite III DPD RI.

Agita mengatakan, persoalan keberlanjutan siswa Sekolah Rakyat menjadi salah satu aspirasi yang ia temukan saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bekasi. Ia mempertanyakan bagaimana kelanjutan pendidikan maupun pilihan karier anak-anak mereka setelah lulus.

“Ketika siswa Sekolah Rakyat sudah lulus, bagaimana keberlanjutannya? Ada yang ingin bekerja dan ada juga yang ingin kuliah. Tetapi untuk melanjutkan kuliah, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujar Agita.

Menurutnya, sejumlah Sekolah Rakyat telah menjalin kerja sama atau MoU dengan perguruan tinggi maupun program kelas migran. Namun, kerja sama tersebut dinilai belum merata sehingga perlu diperluas agar seluruh siswa memiliki akses terhadap pilihan pendidikan maupun dunia kerja setelah lulus.

“Jangan sampai setelah mereka lulus, justru kehilangan akses untuk melanjutkan pendidikan atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Karena itu, menurut saya, kerja sama dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, maupun program penempatan kerja perlu diperkuat dan diperluas,” katanya.

Kepastian Siswa Ketika Desil Keluarga Berubah

Selain keberlanjutan pendidikan, Agita juga mempertanyakan kebijakan bagi siswa yang telah diterima di Sekolah Rakyat tetapi pada tahun berikutnya mengalami perubahan status desil akibat perubahan kondisi sosial ekonomi keluarganya.

Ia menjelaskan, data sosial ekonomi dapat berubah karena berbagai kondisi, seperti perubahan pendapatan, kelahiran, kematian, maupun perubahan status keluarga. Persoalannya, diperlukan kepastian apakah siswa yang telah bersekolah di Sekolah Rakyat harus keluar apabila status desil keluarganya berubah menjadi di atas Desil 2.

“Kalau seorang anak sudah masuk Sekolah Rakyat karena keluarganya berada di Desil 1 atau 2, kemudian tahun berikutnya kondisi ekonomi orang tuanya meningkat dan desilnya berubah, bagaimana nasib anak tersebut? Apakah harus keluar atau tetap dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya?” tanya Agita.

Menurutnya, kepastian tersebut penting agar perubahan kondisi ekonomi keluarga tidak justru mengganggu proses pendidikan anak yang sudah berjalan.

Dalam rapat tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa keberlanjutan pendidikan siswa akan melihat kondisi objektif masing-masing. Untuk siswa SD, pemerintah akan menunggu hingga mereka lulus dan selanjutnya diarahkan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Sementara siswa SMP akan menyelesaikan pendidikan SMP-nya hingga lulus dengan mempertimbangkan kondisi objektif.

Menteri Sosial juga menekankan bahwa tujuan utama Sekolah Rakyat tidak hanya meningkatkan kondisi anak, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

“Yang masih SD kita tunggu sampai lulus, nanti setelah lulus kita sarankan untuk bisa sekolah di sekolah umum. Kalau dia SMP, SMP-nya sampai lulus, tergantung kondisi objektif. Tapi sekali lagi targetnya ini seperti di dalam bagan itu, itu adalah orang tua dan keluarga. Kami membayangkan kalau nanti misalnya ada 100.000 anak siswa Sekolah Rakyat lulus SMA, maka ada 100.000 keluarga yang juga naik kelas. Dia bisa menjadi keluarga yang lebih mandiri. Jadi ini adalah simultan dengan program strategis Bapak Presiden,” kata Saifullah.

Dorong Penyesuaian Kuota SMP dan SMA

Agita juga menyoroti persoalan daya tampung Sekolah Rakyat. Berdasarkan temuan di lapangan, minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat, khususnya dari keluarga Desil 1 dan 2, mulai meningkat seiring semakin dikenalnya program tersebut.

Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan kuota. Agita menyebut terdapat calon siswa jenjang SMP dan SMA yang harus masuk daftar tunggu atau bahkan tidak dapat diterima karena kuota telah penuh.

Di sisi lain, kuota untuk jenjang SD masih memiliki kekosongan karena sebagian orang tua masih keberatan melepas anak mereka untuk mengikuti pendidikan berasrama.

“Apakah memungkinkan kuota SD yang masih kosong itu dapat dipertimbangkan untuk dialihkan atau disesuaikan dengan kebutuhan kuota SMP dan SMA? Karena untuk jenjang SMP dan SMA, minat dari keluarga Desil 1 dan 2 cukup tinggi,” ujar Agita.

Ia menilai penyesuaian komposisi kuota dapat menjadi salah satu opsi untuk merespons kebutuhan masyarakat, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan.

Persoalan KIP Kuliah dan Perubahan Data Desil

Agita juga membawa persoalan akses KIP Kuliah yang berkaitan dengan akurasi dan perubahan data desil. Ia menyampaikan bahwa saat ini penerima KIP Kuliah ditujukan bagi masyarakat pada kelompok desil tertentu, sementara biaya pendidikan tinggi membutuhkan dukungan yang cukup besar.

Ia menemukan kasus calon mahasiswa yang secara kondisi ekonomi seharusnya masuk dalam kelompok desil yang dapat mengakses KIP Kuliah, tetapi mengalami kendala ketika melakukan pemutakhiran data.

“Ada yang sebelumnya tercatat di Desil 6, kemudian sudah melakukan perubahan data dan pengusulan KIP/PIP Tahun 2026/2027. Tetapi setelah datanya berubah, hanya turun menjadi Desil 5. Akibatnya, anak tersebut tetap tidak dapat mengajukan KIP Kuliah,” ungkap Agita.

Menurutnya, kasus tersebut perlu mendapatkan perhatian karena kemungkinan tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga di daerah lain.

Agita berharap pemerintah dapat memperkuat mekanisme verifikasi dan pemutakhiran data agar masyarakat yang secara nyata membutuhkan bantuan tidak kehilangan kesempatan memperoleh akses pendidikan tinggi hanya karena persoalan perubahan atau ketidaksesuaian data desil.

“Saya yakin ini bukan hanya kasus di Jawa Barat. Karena itu, perlu ada mekanisme yang dapat membantu masyarakat ketika kondisi riilnya tidak sesuai dengan data yang tercatat, sehingga anak-anak dari keluarga yang memang membutuhkan tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” katanya.

Agita menegaskan, akurasi data sosial ekonomi harus berjalan beriringan dengan kebijakan perlindungan sosial dan pendidikan. Data yang dinamis memang diperlukan untuk menggambarkan kondisi masyarakat secara aktual, namun mekanisme pemutakhiran dan verifikasinya juga harus responsif terhadap kondisi nyata di lapangan.

“Jangan sampai perubahan data yang seharusnya menggambarkan kondisi masyarakat justru menjadi hambatan bagi anak untuk mendapatkan hak pendidikannya. Yang terpenting adalah memastikan kebijakan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” pungkas Agita. (Evi)
Share:






ADVERTISING

ADVERTISING