Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Jaga Stabilitas Ekonomi dan Penguatan Kebijakan DHE Bersama Tokoh Ekonomi

Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Jaga Stabilitas Ekonomi dan Penguatan Kebijakan DHE Bersama Tokoh Ekonomi. (Dok. Kemenko Perekonomian)

Jakarta, WaraWiri.net - Pemerintah terus memperkuat langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan ekonomi global. Penguatan fundamental ekonomi, pengelolaan devisa hasil ekspor, serta penguatan tata kelola sektor keuangan menjadi bagian penting dari strategi Pemerintah untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.

Presiden RI Prabowo Subianto bertemu dengan sejumlah tokoh ekonomi nasional di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/05), untuk membahas pengalaman penanganan krisis ekonomi pada periode sebelumnya serta langkah antisipatif dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan pers usai pertemuan tersebut.

Menko Airlangga menjelaskan bahwa para tokoh tersebut menyampaikan sejumlah catatan penting terkait pengalaman menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, dan perubahan nilai tukar. Menurut Menko Airlangga, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat langkah antisipasi Pemerintah menghadapi berbagai dinamika global saat ini.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkap Menko Airlangga.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga meminta jajaran terkait untuk terus memonitor berbagai regulasi guna memperkuat stabilitas sektor keuangan dan menjaga prinsip kehati-hatian perbankan. Pemerintah juga menilai perlu dilakukan penguatan permodalan perbankan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Selain membahas stabilitas ekonomi dan sektor keuangan, Pemerintah juga terus mematangkan implementasi kebijakan devisa hasil ekspor dan tata kelola ekspor sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola ekspor nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta memastikan devisa hasil ekspor memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional.

“Kami laporkan terkait kemarin pertemuan dengan para asosiasi pengusaha baik dalam maupun luar negeri, sosialisasi dari devisa hasil ekspor dan sosialisasi daripada ekspor melalui badan usaha milik negara,” ujar Menko Airlangga.

Menko Airlangga menyampaikan bahwa dunia usaha menyambut baik arah kebijakan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan badan yang dibentuk Pemerintah. Implementasi kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juni 2026 dan dilakukan secara bertahap dengan evaluasi dalam tiga bulan pertama. Pemerintah juga menyiapkan sistem pemantauan terintegrasi melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Danantara, serta sistem monitoring otomatis guna memastikan implementasi berjalan efektif dan akuntabel.

Langkah-langkah tersebut menegaskan komitmen Pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penguatan fundamental ekonomi, tata kelola sektor keuangan yang prudent, serta optimalisasi pengelolaan devisa dan ekspor nasional agar perekonomian Indonesia tetap tangguh dan adaptif dalam menghadapi dinamika global.

Turut hadir dalam agenda tersebut di antaranya yakni tokoh ekonomi nasional sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, serta mantan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo. (Junaedi)
Share:

Pertemuan SOM Indonesia-Singapura Dorong Penguatan Kemitraan Di Sektor Industri, Transisi Hijau, dan Agriteknologi

Indonesia dan Singapura melaksanakan pertemuan The 13th Senior Official Meeting of The Six Economic Bilateral Working Group (SOM 6WG). (Dok. Kemenko Perekonomian)

Singapura, WaraWiri.net - Pertemuan dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, sebagai Senior Official Indonesia, dan Permanent Secretary Ministry of Trade and Industry Singapura Beh Swan Gin, sebagai Senior Official Singapura.

Pelaksanaan SOM 6WG bertujuan untuk mengevaluasi dan memperkuat kerja sama ekonomi bilateral di enam Working Group (WG), yakni WG Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan KEK, WG Investasi, WG Transportasi, WG Pariwisata, WG Ketenagakerjaan, dan WG Agribisnis. Kedua Co-chairs menyampaikan pentingnya penguatan kerja sama sektor strategis kedua negara agar lebih adaptif dan responsif, terutama dalam menghadapi ancaman akibat ketidakpastian ekonomi-politik global.

”Kerja sama Indonesia dan Singapura perlu diarahkan kepada upaya menjawab tantangan perkembangan dunia di sektor strategis seperti kawasan industri yang berkelanjutan, pengembangan infrastruktur digital, ekonomi hijau, teknologi pertanian dan pengembangan talenta-talenta digital,” ungkap Deputi Edi.

Pertemuan selanjutnya mencatat perkembangan yang dicapai oleh keenam WG selama periode 2025-2026. Pada WG BBK dan KEK, terbitnya PP No. 25 Tahun 2025 tentang perluasan kewenangan perizinan BP Batam, dan PP No. 47 Tahun 2025 tentang perluasan kawasan FTZ Batam dari 8 menjadi 22 pulau adalah milestone krusial bagi upaya efisiensi birokrasi dan peluang investasi di kawasan BBK. Selain itu, paket informasi regulasi investasi terkini di kawasan BBK akan meningkatkan kepastian hukum bagi investor asing.

Keberhasilan lainnya yakni penyelenggaraan the 2nd Islands of Growth: BBK Investment Forum pada November 2025 di Singapura. Forum yang dihadiri 120 peserta tersebut berperan sebagai forum promosi investasi. Ke depan, WG BBK akan memperkuat layanan keimigrasian melalui penyempurnaan paket informasi visa, rencana pembentukan pusat layanan telepon imigrasi 24 jam, serta peningkatan kejelasan regulasi terkait implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Pada WG Investasi, Indonesia dan Singapura memperkuat kolaborasi di lima sektor prioritas, yakni pengembangan infrastruktur industri, ekonomi hijau, layanan kesehatan, agribisnis, serta promosi peluang investasi di Indonesia. Di bidang kawasan industri, Kendal Industrial Park (KIP) Fase 1 telah mencapai kapasitas penuh. Pengembangan KIP Fase 2 seluas 1.000 ha sedang dalam proses inisiasi dengan tujuan untuk mengakomodasi permintaan investor asing, seiring rencana perayaan ulang tahun KIP ke-10 pada November 2026.

Di bidang ekonomi hijau, Sembcorp bersama PT SESNA mengembangkan proyek tenaga surya skala utilitas terbesar di Indonesia berlokasi di IMIP, Sulawesi Tengah, dengan kapasitas 200 MW dan sistem penyimpanan energi baterai 80 MWh senilai USD 210 juta. Selain itu, kolaborasi antara NUS, CRecTech, dan Pertamina tengah mengembangkan proyek percontohan biogas-ke-bio-metanol pertama di Indonesia di Sumatera Utara, yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol sekaligus membuka rantai nilai bahan bakar hijau baru.

Dalam kerangka WG Transportasi, Indonesia dan Singapura mencatat kemajuan di sektor penerbangan dan maritim, terutama rencana pengembangan konektivitas udara kedua negara, serta penguatan kerja sama antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines. Di sektor maritim, kedua pihak sepakat memperluas cakupan kerja sama melampaui pelatihan, dengan target penandatanganan MOU baru pada 2027 bertepatan dengan peringatan 60 tahun hubungan bilateral.

Sementara itu, WG Pariwisata berfokus pada tiga agenda utama, yakni kerja sama cruise melalui promosi bersama dan pengembangan rute tujuan, promosi destination twinning Indonesia dan Singapura kepada wisatawan mancanegara, serta penguatan kolaborasi MICE dengan menggandeng asosiasi MICE.

Pada WG Ketenagakerjaan, kerja sama yang dilakukan mencakup 4 area utama kolaborasi, yakni kerja sama pengembangan Sumber Daya Manusia antara Singapura dan Indonesia di Lembaga Pendidikan Tinggi (IHL), lembaga vokasi, dan kementerian, pengembangan kerja sama program Tech X, peningkatan kapasitas dan pertukaran program pelatihan antara Indonesia dan Singapura, serta pengembangan kerja sama kedua negara dengan ASEAN.

Pada WG Agribisnis, kedua negara sepakat untuk melanjutkan penguatan kerja sama AWG dalam meningkatkan hubungan perdagangan pertanian (agri-trade) antara Indonesia dan Singapura, sekaligus mendukung implementasi tujuan Memorandum of Understanding (MoU) on Food Safety and Agriculture Technology. Selain itu, di dalam pelaksanaan AWG 5-year Workplan 2021–2025, sebanyak 11 dari 12 indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPIs) telah berhasil dicapai, sementara satu indikator lainnya akan dilanjutkan dalam Workplan 2026–2030.

Rencana kerja lima tahunan periode 2026–2030 juga telah disahkan oleh para Co-Chairs AWG pada pertemuan tanggal 28 April 2026 lalu. Selanjutnya program kerja sama AWG yang akan dilaksanakan yakni Young Farmers Development Programme (YFDP) Kementerian Pertanian, dimana telah terpilih 13 petani muda berpotensi tinggi serta 2 ASN untuk dapat mengikuti program pelatihan di Singapura pada tanggal 7–13 Juni 2026. Adapun seluruh biaya program, termasuk akomodasi, tiket penerbangan, dan pelatihan, didanai penuh oleh Pemerintah Singapura.

Menanggapi perkembangan di keenam WG tersebut, Permanent Secretary Beh menyampaikan bahwa Singapura berkomitmen untuk senantiasa menjaga hubungan kemitraan yang erat dalam area kerja sama 6 WG khususnya dalam upaya meningkatkan pertumbuhan industri, transisi hijau, dan agriteknologi antara kedua negara.

“Kami meyakini bahwa pertemuan ini akan semakin mempererat hubungan kemitraan kedua negara melalui implementasi kerja sama konkret untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif kedua negara,” ujar Permanent Secretary Beh.

Deputi Edi juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Singapura terhadap komitmen implementasi kerja sama yang telah disepakati oleh kedua negara.

“Penguatan kerja sama Indonesia-Singapura dalam kerangka 6 WG diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan,” pungkas Deputi Edi.

Secara statistik, Singapura merupakan mitra utama dalam perdagangan dan investasi Indonesia. Singapura merupakan mitra utama dagang terbesar ketiga bagi Indonesia dengan total nilai perdagangan pada tahun 2025 mencapai 32,8 miliar USD. Hal ini mencerminkan tren positif pertumbuhan sebesar 3,9% selama kurun waktu 5 tahun terakhir.

Dalam hal investasi, Singapura tetap menjadi investor asing terbesar di Indonesia dengan total nilai investasi mencapai 75,5 miliar USD selama 5 tahun terakhir dan berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 820.000 lapangan pekerjaan di berbagai sektor. Pada tahun 2025, investasi Singapura di Indonesia mencapai 17,4 miliar USD.

Co-Chairs SOM menegaskan kembali bahwa 6WG tetap menjadi forum utama dan strategis dalam meningkatkan nilai perdagangan dan investasi Indonesia-Singapura yang konkret, berorientasi hasil, dan memberikan manfaat langsung bagi kemaslahatan masyarakat kedua negara.

Pada akhir pertemuan, kedua pimpinan delegasi menandatangani Summary of Discussion (SoD) yang selanjutnya akan menjadi acuan pelaksanaan the 16th Indonesia-Singapore Six Economic Bilateral Working Group Ministerial Meeting Juni 2026 mendatang.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Irwan Sinaga, Asisten Deputi Pengembangan Kawasan Ekonomi dan Proyek Strategis Suroto, Direktur Kerja Sama Bilateral Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rini Setiani Sutrisno Modouw, Kepala Biro Kerjasama Kementerian Ketenagakerjaan Muhammad Arif Hidayat, Kepala Pusat Fasilitasi Kemitraan dan Kelembagaan Internasional (PFKKI) Kementerian Perhubungan Amiruddin, Direktur Kerja Sama Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Elizani Nadia Sumampouw, serta perwakilan Kementerian/Lembaga terkait. (Junaedi)
Share:

Hari Laut Internasional 2026, Menteri LH Tegaskan Perlindungan Laut Tak Berhenti di Garis Pantai

Hari Laut Internasional 2026, Menteri LH Tegaskan Perlindungan Laut Tak Berhenti di Garis Pantai. (Dok. Kemen LH)

Jakarta, WaraWiri.net - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat aksi pemulihan ekosistem pesisir dan laut melalui peringatan Hari Laut Internasional 2026 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Mengusung tema “Aksi Bersama untuk Pantai Lestari”, kegiatan ini menjadi momentum kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kesehatan laut, mengendalikan pencemaran, serta mempercepat pemulihan ekosistem pesisir dan bawah laut Indonesia.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa perlindungan laut tidak dapat dilakukan secara parsial dan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Tema ‘Aksi Bersama untuk Pantai Lestari’ harus menjadi gerakan nyata. Perlindungan laut tidak boleh berhenti di garis pantai, tetapi wajib menyentuh pondasi ekosistem di bawah laut. Melalui kehadiran lebih dari 1.000 peserta hari ini, kita melakukan intervensi konkret dari darat hingga dasar laut,” jelasnya.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau dan wilayah laut mencapai lebih dari 6,4 juta kilometer persegi. Indonesia juga berada di kawasan Coral Triangle yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia dengan kekayaan terumbu karang, mangrove, padang lamun, serta ribuan spesies ikan dan biota laut lainnya.

Laut Indonesia tidak hanya menjadi sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir, tetapi juga berperan penting sebagai penyerap karbon biru (blue carbon), pengatur iklim global, jalur perdagangan dunia, dan penopang ketahanan ekonomi nasional.

Namun demikian, ekosistem laut Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius, mulai dari sampah plastik, pencemaran pesisir, kerusakan terumbu karang, degradasi mangrove dan lamun, hingga ghost gear atau alat tangkap yang ditinggalkan di laut. Kondisi ini memicu ghost fishing, merusak habitat bawah laut, dan mencemari rantai makanan melalui mikroplastik.

Berangkat dari kondisi tersebut, peringatan Hari Laut Internasional 2026 diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, seperti island clean up, diving clean up, dan snorkeling clean up untuk mengangkat sampah serta jaring hantu dari laut, penanaman 50 media transplantasi terumbu karang, pelepasan 1.000 bibit ikan kerapu, serta pelepasan penyu sisik dan 100 tukik sebagai simbol pemulihan ekosistem pesisir dan laut.

Asisten Teritorial Panglima Komando Armada Republik Indonesia, Budi Mulyadi, menyampaikan bahwa keterlibatan lintas pihak dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masa depan bumi dan kelestarian laut masih terjaga dengan kuat.

“Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap masa depan bumi dan kelestarian laut masih menyala dengan sangat terang. Laut adalah penyedia oksigen, sumber mata pencaharian, serta rumah bagi jutaan spesies makhluk hidup,” ujar Budi Mulyadi.

KLH/BPLH juga terus memperkuat pengendalian sampah laut melalui penguatan kebijakan, pengawasan pencemaran, pemulihan ekosistem pesisir dan laut, pengembangan sistem pemantauan sampah laut termasuk ghost gear, serta peningkatan partisipasi masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah (GPS) dan pengembangan kader lingkungan di wilayah pesisir sebagai bagian dari implementasi Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI). (Ros)
Share:

Kementerian ESDM Minta PLN Percepat Pemulihan Gangguan Sistem Kelistrikan Sumatera

Kementerian ESDM Minta PLN Percepat Pemulihan Gangguan Sistem Kelistrikan Sumatera. (Dok. Kemen ESDM)

Jakarta, WaraWiri.net - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta PT PLN (persero) memastikan proses pemulihan pasokan listrik dilakukan secara maksimal agar aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal. Saat ini, Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) terus melakukan koordinasi intensif dalam penanganan gangguan sistem kelistrikan yang terjadi di sebagian wilayah Sumatera pada Jumat (22/5) kemarin.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan bahwa sejak awal terjadinya gangguan, Kementerian ESDM dan Kementerian Sekretariat Negara bersama PT PLN (Persero) terus berkoordinasi dan memonitor perkembangan kondisi sistem kelistrikan secara intensif.

"Kementerian ESDM sebagai regulator dan pengawas subsektor ketenagalistrikan memberikan perhatian serius terhadap kejadian (blackout) ini. Kami memahami gangguan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat serta berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial di wilayah terdampak," kata Yuliot di Jakarta, Sabtu (23/5).

Kementerian ESDM, sambung Yuliot, akan memastikan investigasi teknis dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif guna mengetahui akar penyebab gangguan serta menyiapkan langkah mitigasi supaya kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Selain itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Tri Winarno menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap proses pemulihan guna memastikan pasokan tenaga listrik kembali andal dan aman bagi masyarakat.

"Kami akan terjunkan tim inspektur ketenagalistrikan untuk menginvestigasi agar kejadiaan serupa tidak terulang kembali. Tentu, kami tak lupa menyampaikan terima kasih kepada masyarakat atas pengertian dan kesabarannya selama proses pemulihan berlangsung," jelas Tri.

Tri menambahkan, selain proses pemulihan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan arahan agar PLN melakukan peningkatan keandalan backbone sistem Sumatera dengan pembangunan pembangkit dan transmisi 500 kV/275 kV dan penguatan keandalan sub sistem di setiap provinsi. Selain itu, PLN juga perlu menyiapkan pembangkit atau infrastruktur blackstart untuk percepatan pemulihan apabila terjadi gangguan.

"Menteri ESDM memberikan arahan kepada kami untuk memastikan percepatan pembangunan pembangkit di wilayah Sumatera bagian barat agar bisa berjalan baik," ujar Tri.


Sistem Berangsur Pulih

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan yang terjadi serta menjelaskan langkah-langkah pemulihan yang sedang dilakukan. PLN juga memastikan seluruh personel di lapangan bekerja secara maksimal untuk mempercepat normalisasi sistem kelistrikan di wilayah terdampak.

"Pertama-tama kami atas nama PLN menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat di wilayah Sumatera yang terdampak gangguan sistem kelistrikan. Sejak kejadian terjadi, seluruh personel kami langsung bergerak melakukan asesmen, pemulihan sistem transmisi dan gardu induk, serta menyalakan kembali pembangkit secara bertahap dan terkoordinasi," ujar Darmawan dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Pusat PLN, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5) pagi.

Ia menjelaskan bahwa indikasi awal gangguan berasal dari sistem transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang diduga dipengaruhi kondisi cuaca. Gangguan tersebut kemudian memicu gangguan berantai (domino effect) pada sistem kelistrikan Sumatera sehingga berdampak pada sejumlah pembangkit di berbagai wilayah.

Hingga Sabtu (23/5/2026) pukul 19.00 WIB, proses penormalan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Dari total 13,1 juta pelanggan terdampak, sebanyak lebih dari 8,5 juta pelanggan telah kembali menikmati aliran listrik.

Sementara itu, beban sistem yang telah berhasil dipulihkan mencapai 3.431,21 MW dari total 5.334 MW yang sebelumnya terdampak. Selain itu, seluruh gardu induk terdampak atau sebanyak 176 unit telah berhasil beroperasi kembali .

"Proses penormalan pembangkit terus dilakukan secara bertahap, khususnya untuk pembangkit berbasis batubara yang membutuhkan waktu sinkronisasi lebih panjang," jelas Darmawan.

PLN menegaskan bahwa secara umum pasokan daya pada Sistem Sumatera dalam kondisi cukup. Gangguan yang terjadi lebih berkaitan dengan aspek sistem dan penyaluran tenaga listrik. (Zidan)
Share:

Tarik Minat Investor Migas, Menteri Bahlil Tawarkan Ratusan WK Potensial

Tarik Minat Investor Migas, Menteri Bahlil Tawarkan Ratusan WK Potensial. (Dok. Kemen ESDM)

Banten, WaraWiri.net - Seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional dan dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia, pemerintah terus mempercepat langkah menuju ketahanan dan swasembada energi. Upaya tersebut ditempuh melalui percepatan eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas bumi (migas) untuk mendukung target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada 2029.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang investasi yang lebih luas melalui penawaran lelang sejumlah Wilayah Kerja (WK) Migas potensial, sebagai bagian dari strategi peningkatan cadangan dan produksi migas nasional secara berkelanjutan.

"Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh (ikut). Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting kalian punya teknologi, kalian punya uang, kalian punya keseriusan. Silahkan mengelola hasil yang ada untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara," ujar Bahlil saat membuka acara Indonesia Petroleum Association Convention dan Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Banten.

Hingga Mei 2026, Kementerian ESDM telah mengidentifikasi 118 Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi (WK Migas) potensial. Rinciannya meliputi 43 wilayah yang masih dalam tahap studi bersama, 50 wilayah potensial pada tahap penawaran studi dan akuisisi data baru, serta 25 wilayah yang telah ditandatangani, termasuk 8 WK hasil lelang 2025 yang penandatanganan kontraknya disaksikan langsung oleh Menteri ESDM.

Kedelapan WK tersebut adalah Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Southwest Andaman, Barong, dan Nawasena. Rinciannya sebagai berikut:
  • WK Gagah, berlokasi di onshore Sumatera Selatan. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya 173 juta barel minyak dan 1,1 Trillion Cubic Feet (Triliun Kaki Kubik atau TCF) gas, dengan nilai komitmen pasti USD4,25 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
  • WK Bintuni, berlokasi di onshore dan offshore Papua Barat. Potensi sumber dayanya mencapai 2,1 TCF gas, dengan nilai komitmen pasti USD16,55 juta dan bonus tanda tangan USD1,25 juta.
  • WK Karunia, berlokasi di onshore dan offshore Sumatera Utara dan Riau. Potensi sumber dayanya sebesar 82 juta barel minyak dan 0,13 TCF gas, dengan nilai komitmen pasti USD9,9 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
  • WK Drawa, berlokasi di offshore Papua Barat dan Papua Barat Daya. Potensi sumber dayanya 0,36 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD6,45 juta dan bonus tanda tangan USD200 ribu.
  • WK Jalu, berlokasi di offshore Laut Andaman. Potensi sumber dayanya sebesar 2,9 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD6,6 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
  • WK Southwest Andaman, berlokasi di offshore Laut Andaman. Wilayah ini memiliki sumber daya potensial 3 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD8,2 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
  • WK Barong, berlokasi di offshore Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Potensi sumber dayanya 2,9 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD2,5 juta dan bonus tanda tangan USD200 ribu.
  • WK Nawasena, berlokasi di onshore dan offshore Jawa Timur. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya 1,3 TCF gas, dengan total nilai komitmen pasti USD3,5 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
Secara keseluruhan, delapan WK tersebut memiliki total nilai komitmen pasti sebesar USD57,95 juta dan total bonus tanda tangan USD3,15 juta, dengan perkiraan sumber daya mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 TCF gas.

Menurut Bahlil, penandatanganan WK tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap potensi migas Indonesia. Investasi ini diharapkan menjadi katalis penting untuk menemukan cadangan migas baru, meningkatkan produksi nasional, menambah penerimaan negara, serta membuka lapangan kerja.

Oleh karena itu, Menteri ESDM juga mendorong agar pengusaha migas di daerah-daerah bisa mendapatkan porsi kesempatan yang sama untuk menjadi kontraktor di wilayahnya, namun dengan catatan, harus memiliki kompetensi dan kemampuan di bidang migas.

"Agar pengusaha-pengusaha daerah itu harus dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta semua. Jadikanlah orang daerah itu menjadi tuan di negerinya sendiri selama (mereka) profesional," ujarnya.

Bahlil juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara Kementerian ESDM, SKK Migas, dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar seluruh kesepakatan dapat dijalankan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, sehingga proyek bisa selesai tepat waktu dan mendukung peningkatan produksi migas nasional.

"Saya minta jangan lagi diperlambat investor di KKKS. Di hulu migas ini resikonya besar, jangan dipersulit, harus dipermudah. Tapi kalau pengusahanya sudah kita bantu, sudah sesuai aturan, tapi dia dalam implementasinya masih aneh-aneh, artinya perlu diluruskan. Berarti itu yang tidak mau melakukan kerja sama. Kita butuh kerja sama yang baik, kita butuh kolaborasi yang baik untuk saling mendukung agar apa yang menjadi mimpi cita-cita dan program kita, bisa kita wujudkan bersama," pungkasnya. (Muh)
Share:

Bank Pembangunan Daerah Tetap Tumbuh Solid di Tengah Persaingan Industri Perbankan Nasional

Bank Pembangunan Daerah Tetap Tumbuh Solid di Tengah Persaingan Industri Perbankan Nasional. (Dok. OJK)

Jakarta, WaraWiri.net - Industri Bank Pembangunan Daerah (BPD) menunjukkan kinerja yang solid dan resilien di tengah persaingan industri perbankan nasional yang semakin meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa kinerja BPD mengalami pertumbuhan yang baik, dengan total aset sampai dengan Maret 2026 sebesar Rp1.036,51 triliun atau tumbuh sebesar 3,20 persen year-on-year (yoy). Hal ini juga didukung dengan ketahanan permodalan yang baik yaitu CAR sebesar 26,19 persen.

Selanjutnya penyaluran kredit BPD tumbuh dari sebesar Rp562,85 triliun pada Desember 2022 menjadi Rp656,87 triliun pada Maret 2026 dan tumbuh 1,59 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan kredit didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 4,74 persen yoy menjadi Rp782,04 triliun.

Kinerja industri BPD tersebut tetap terjaga dengan kualitas pembiayaan yang baik, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross dan NPL Nett yang masing-masing berada pada level 3,26 persen dan 1,27 persen. Hal ini menunjukkan ekspansi yang tetap berjalan di tengah dinamika ekonomi dan pendekatan yang lebih prudent. BPD terus memperkuat pengelolaan risiko melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, peningkatan monitoring pascapenyaluran, serta pembentukan cadangan yang memadai sesuai ketentuan, sehingga kualitas aset tetap terjaga.

“OJK akan senantiasa melaksanakan upaya untuk memajukan industri BPD, diantaranya melalui pelaksanaan Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2024-2027 yang mencakup berbagai aspek pendukung sebagai panduan bagi BPD untuk merealisasikan visi BPD yang resilien, kontributif, dan kompetitif," kata Dian.

Roadmap Penguatan BPD 2024-2027 difokuskan pada empat pilar utama yang dirancang untuk mengoptimalkan peran BPD yaitu (1) Penguatan Struktur dan Keunggulan BPD, (2) Akselerasi Transformasi Digital BPD, (3) Penguatan Peran BPD dalam Ekonomi Daerah dan Nasional, serta (4) Penguatan Perizinan, Pengaturan, dan Pengawasan BPD.

Melalui penyempurnaan arah kebijakan pengembangan dan penguatan BPD dalam roadmap, diharapkan BPD dapat terus tumbuh secara prudent dan berkontribusi signifikan terhadap pembangunan serta pemerataan ekonomi daerah yang berkelanjutan, sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian nasional.

Setelah diterbitkan pada 2024, Roadmap BPD 2024-2027 telah memberikan dampak positif dalam pengembangan industri BPD. Salah satunya adalah penguatan daya saing BPD melalui implementasi ketentuan OJK terkait Konsolidasi dan Pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) yang bertujuan untuk mendorong penguatan permodalan industri perbankan.

Kebijakan ini telah mendorong pemenuhan modal inti BPD dari semula terdapat 18 BPD dengan modal inti minimum kurang dari Rp3 triliun pada tahun 2019 menjadi hanya 10 BPD pada akhir 2024, yang semuanya telah membentuk Kelompok Usaha Bank (KUB).

Hal ini sejalan dengan pilar 1 dalam Roadmap tersebut yaitu “Penguatan Struktur dan Keunggulan BPD" dengan inisiatif “Mengakselerasi konsolidasi BPD dan penguatan KUB". Adapun pelaksanaan KUB ini diharapkan dapat memperkuat resiliensi BPD dan meningkatkan daya saing melalui sinergi yang baik antara bank induk dengan anggota KUB, sehingga peran BPD semakin meningkat dalam menjalankan fungsi intermediasi serta sebagai agen pembangunan di daerah.

Dukung UMKM

Lebih lanjut, industri BPD terus menunjukkan dukungan terhadap penyaluran kredit kepada Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 19 Tahun 2025 Tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Dukungan BPD terhadap UMKM termasuk dalam pilar 3 Roadmap Penguatan BPD 2024-2027, yaitu Penguatan Peran BPD dalam Ekonomi Daerah dan Nasional. Salah satu inisiatif dalam pilar tersebut yaitu “Meningkatkan peran BPD terhadap sektor produktif termasuk UMKM".

Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan kredit UMKM di BPD menunjukkan tren yang sejalan dengan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Porsi kredit UMKM berada di kisaran 16–18 persen dari total kredit, dengan kualitas kredit yang relatif stabil dan terjaga, mencerminkan bahwa ekspansi kredit tetap diimbangi dengan pengelolaan kualitas aset yang baik.

OJK mengharapkan BPD mampu mengambil peran strategis dalam menstimulasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk memperkuat struktur ekonomi daerah, mengingat BPD memiliki kedekatan geografis dan kultural yang kuat untuk mengidentifikasi potensi unik di setiap wilayah. Langkah ini krusial agar daerah tidak hanya bergantung pada sektor komoditas tradisional, melainkan mampu beradaptasi dengan tren ekonomi global.

OJK juga senantiasa mendorong BPD untuk menjadi motor penggerak investasi pada sektor-sektor masa depan, seperti pengembangan ekonomi hijau (green economy), hilirisasi produk unggulan daerah, pariwisata berkelanjutan, serta digitalisasi ekosistem pedesaan. Melalui penyaluran pembiayaan yang terarah pada sektor-sektor baru ini, BPD tidak hanya memperluas portofolio kreditnya secara sehat, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi daerah.

Selanjutnya, OJK akan secara konsisten mengawal implementasi Roadmap melalui berbagai langkah strategis bersama para pemangku kepentingan guna transformasi dan penguatan BPD di seluruh Indonesia. (Bambang)
Share:

OJK Perkuat Budaya Integritas dan Governance Generasi Muda melalui SPARK Camp 2026

OJK Perkuat Budaya Integritas dan Governance Generasi Muda melalui SPARK Camp 2026. (Dok. OJK)

Jakarta, WaraWiri.net - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan integritas di lingkungan pendidikan melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bertema “The Guardian of Governance: Membangun Integritas Pemimpin Masa Depan" di tiga perguruan tinggi sebagai bagian dari rangkaian Road to Risk and Governance Summit Tahun 2026.

Kegiatan dilaksanakan secara maraton di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran" Yogyakarta pada 18 Mei 2026, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada 19 Mei 2026, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 22 Mei 2026.

Kuliah umum diselenggarakan secara hybrid dan dihadiri sekitar 5.000 peserta baik secara luring maupun daring yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta, Karesidenan Surakarta, dan Karesidenan Banyumas.

Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Sophia Wattimena menyampaikan bahwa penguatan governance menjadi fondasi penting dalam memastikan pembangunan berjalan secara berintegritas, akuntabel, dan berkelanjutan.

“Governance ini memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya berjalan cepat, tapi juga tepat, adil, dan berkelanjutan. Jadi artinya pembangunan itu harus dijalankan melalui proses yang berintegritas, yang akuntabel, dan transparan," kata Sophia Wattimena pada kuliah umum yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat.

Sophia juga menegaskan bahwa penguatan integritas perlu dimulai sejak dini agar generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi proses pengambilan keputusan di masa depan.

“Jadi bahasa gaulnya ini nggak cuma pintar aja, tapi karakternya kuat, integritasnya kuat. Jadi pada saat nanti dihadapkan pada proses pengambilan keputusan, integritas ini turut berperan," ujar Sophia.

Dalam paparannya, Sophia menjelaskan bahwa penerapan tata kelola di sektor jasa keuangan menjadi semakin penting mengingat kompleksitas risiko global dan besarnya eksposur industri jasa keuangan yang diawasi OJK. Saat ini, total aset sektor jasa keuangan yang berada dalam pengawasan OJK mencapai sekitar Rp30 ribu triliun.

Selain itu, Sophia juga menyoroti berbagai tantangan global seperti risiko geopolitik, disinformasi, serangan siber, digital disruption, dan perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang memerlukan penguatan governance dan cyber resilience.

OJK terus mendorong penguatan tata kelola melalui berbagai kebijakan lintas sektor, antara lain strategi anti-fraud, penguatan pengendalian internal pelaporan keuangan, penguatan independensi profesi penunjang sektor jasa keuangan, pengelolaan konflik kepentingan, serta penguatan keamanan teknologi informasi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor IV Bidang Manajemen Sistem Informasi, Manajemen SDM, dan Organisasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Em Sutrisna menyampaikan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun kepemimpinan masa depan.

“Nilai IPK saja tidak cukup. Salah satunya apa? Integritas. Integritas, kejujuran. Kalau dalam bahasa agama itu tabligh, amanah, fathanah, sidik. Itulah sifat-sifat Rasul yang kalau dirangkum dalam satu kata, mungkin itulah integritas," ujar Em Sutrisna.

Pada sesi diskusi, para peserta juga berdialog aktif bersama narasumber OJK mengenai penguatan budaya etika dan governance agar tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan administratif, tetapi juga menjadi budaya organisasi yang diterapkan secara nyata.

Selain itu, OJK turut menyosialisasikan pelaksanaan Risk and Governance Summit 2026, termasuk Innovation Paper Competition yang bertujuan mendorong mahasiswa menyampaikan gagasan, inovasi, dan rekomendasi kebijakan dalam mendukung pengembangan sektor jasa keuangan yang berintegritas dan kredibel.

Melalui kegiatan ini, OJK berharap generasi muda dapat menjadi calon pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kemampuan adaptif dalam menghadapi dinamika global dan transformasi digital. (Bambang)
Share:

Indonesia Perkuat Kolaborasi Iklim dan Pasar Karbon pada Ecosperity Week 2026 dan GenZero Climate Summit 2026

Indonesia Perkuat Kolaborasi Iklim dan Pasar Karbon pada Ecosperity Week 2026 dan GenZero Climate Summit 2026. (Dok. Kemenhut)

Singapura, WaraWiri.net - Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat aksi mitigasi perubahan iklim dan mengembangkan pasar karbon berintegritas tinggi melalui partisipasi aktif pada rangkaian kegiatan Ecosperity Week 2026 dan GenZero Climate Summit 2026 di Singapura.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan mitra pembangunan guna memperkuat kolaborasi dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan melalui investasi karbon.

Dalam berbagai sesi diskusi, Kementerian Kehutanan menyoroti langkah-langkah strategis yang tengah dilakukan untuk memperkuat penyelenggaraan pasar karbon internasional di sektor kehutanan. Upaya tersebut mencakup pengembangan kerangka akuntansi karbon yang kredibel, penyederhanaan proses penerbitan unit karbon, hingga penguatan keterlibatan komunitas, keanekaragaman hayati dan pencadangan karbon untuk kebocoran emisi (safeguard for reversal risk).

Pada forum Nature, Markets, Scale yang diselenggarakan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) dan GenZero pada 18 Mei 2026, diskusi panel membahas perkembangan REDD+ dalam berbagai skema pasar karbon, termasuk pasar kepatuhan (compliance markets), pasar karbon sukarela (voluntary carbon markets/VCM), serta mekanisme kedaulatan (sovereign mechanisms) yang tengah berkembang. 

Pembahasan juga menyoroti pendekatan yurisdiksional dan berbasis proyek, serta bagaimana Pasal 6 Perjanjian Paris, CORSIA, dan sistem perdagangan karbon nasional membentuk arah permintaan, partisipasi, dan kredibilitas pasar karbon di masa depan. Selain itu, forum tersebut mengulas potensi munculnya sumber pasokan dan permintaan baru, termasuk perkembangan pasar di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Pada kesempatan tersebut, Penasihat Utama Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Edo Mahendra, menjelaskan bahwa perubahan regulasi terbaru telah membuka kembali peluang investasi di sektor kehutanan untuk perdagangan karbon internasional di Indonesia.

“Indonesia telah memasuki babak baru dalam era pasar karbon; kali ini, kemauan politik kami diterjemahkan secara jelas ke dalam produk regulasi,” ujar Edo.

Ia menambahkan bahwa Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 menjadi fondasi percepatan perdagangan karbon sektor kehutanan melalui proses bisnis yang lebih jelas dan sederhana. Menurutnya, regulasi tersebut merupakan respons atas meningkatnya kebutuhan pasar terhadap kredit karbon berkualitas tinggi dan berintegritas. Dalam hal ini pemerintah membuka semua mekanisme instrumen nilai ekonomi karbon termasuk melalui skema Nesting. Pendekatan nesting dinilai penting untuk memastikan integritas lingkungan, mencegah penghitungan ganda, serta memperkuat kepercayaan pasar dan investor.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Laksmi Wijayanti, melalui sambutan penutup acara tersebut menyampaikan bahwa Kementerian Kehutanan sangat terbuka terhadap investasi karbon di sektor kehutanan dengan membuka semua mekanisme instrumen nilai ekonomi karbon.

Dalam pertemuan dengan perwakilan Securing Energy for Europe (SEFE), Direktur Bina Usaha Pemanfaatan Hutan, Ilham, menegaskan bahwa saat ini telah ada komitmen Presiden RI melalui utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi telah mempublikasikan rencana program restorasi/rehabilitasi 12 juta hektar lahan kritis, pengurangan emisi sektor kehutanan (avoidance carbon project) sebesar 50 juta hektar, perhutanan sosial sebesar 8,3 juta hektar dan hutan adat sebesar 1,4 juta hektar di COP 30 UNFCCC Belem Brazil 2025, sehingga Pemerintah Indonesia membuka semua mekanisme peluang investasi karbon hutan untuk dapat memenuhi target komitmen Bapak Presiden tersebut.

Selain itu, dari sisi Pemerintah telah mengeluarkan peraturan untuk simplikasi/penyederhanaan proses bisnis investasi kredit karbon hutan melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 dengan tidak mengurangi output yang menghasilkan kredit karbon yang berintegritas dan berkualitas tinggi.

Komitmen Bapak Presiden RI untuk restorasi/rehabilitasi 12 juta hektar merupakan tantangan besar buat sektor kehutanan, akan tetapi ini sejalan dengan kebutuhan pasar karbon internasional yang menginginkan produk kredit karbon yang berintegritas dan berkualitas tinggi. Dan kami dari sisi Pemerintah wajib memenuhi komitmen Bapak Presiden RI dengan salah satu upaya dukungan melalui simplifikasi/penyederhanaan proses bisnis, tetapi mensyaratkan pengembang proyek untuk menghasilkan kredit karbon yang berintegritas dan berkualitas tinggi dengan kriteria pemenuhan standar internasional dan CCP (Core Carbon Principles) dari ICVCM yaitu pemenuhan additionality keterlibatan dan pembagian manfaat kepada masyarakat perlindungan keanekaragaman hayati dan safeguard.

Selain forum utama, delegasi Kementerian Kehutanan juga mengikuti sejumlah pertemuan strategis lainnya, antara lain ICGD Roundtable on Building High-Integrity Carbon Markets Across ASEAN. Pertemuan yang dipimpin oleh Mari Elka Pangestu tersebut difokuskan pada upaya berbagi perkembangan terbaru pasar karbon di negara-negara anggota ASEAN, mengidentifikasi tantangan bersama dan faktor pendukung utama, serta mengeksplorasi peluang kerja sama regional untuk mempercepat pengembangan pasar karbon nasional yang kredibel dan berintegritas tinggi.

Delegasi Kementerian Kehutanan juga menghadiri Roundtable on “Shaping the Future of High-Integrity Carbon Credit Markets” yang diselenggarakan oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), the Coalition to Grow Carbon Markets (CGCM), dan Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ).

Dalam forum tersebut, Edo Mahendra mengatakan Indonesia berharap CGCM dapat mencapai outcome yang konkret melalui penyaluran volume kapital yang lebih besar menuju aksi iklim yang berintegritas dan berkualitas tinggi yang mendukung peningkatan likuiditas pasar karbon internasional. Pertemuan ini akan dilanjutkan dengan pertemuan London Climate Week tanggal 20-28 Juni 2026.

Di sela rangkaian kegiatan, sebagai tindak lanjut dari Bilateral Meeting Menteri Kehutanan dengan Wildlife Conservation Society (WCS) di New York pada 13 Mei 2026, dilaksanakan pertemuan bilateral dengan Heather D’Agnes selaku Regional Director for Southeast Asia-Pacific -WCS. Pertemuan tersebut membahas implementasi Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 7 Tahun 2026 serta peluang investasi pada pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.

Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk terus mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara aksi iklim dan pertumbuhan ekonomi termasuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, Kementerian Kehutanan akan terus memperkuat pengembangan pasar karbon sektor kehutanan yang transparan, kredibel, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung pencapaian agenda pembangunan nasional. Untuk itu di sela acara Ecosperity Week 2026 Pemerintah Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan UNEP untuk pengelolaan REDD+ yang berkelanjutan. (Budi)
Share:

Kemenperin: Data BPS Buktikan Manufaktur RI Masih Jadi Motor Ekonomi

Kemenperin: Data BPS Buktikan Manufaktur RI Masih Jadi Motor Ekonomi. (Dok. Kemenperin)

Jakarta, WaraWiri.net - Kementerian Perindustrian membantah sektor manufaktur Indonesia mengalami deindustrialisasi dini apalagi deindustrialisasi. Bantahan ini didasarkan pada data Produk Domestik Bruto (PDB) dan statistik tenaga kerja Badan Pusat Statistik (BPS).

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa industri pengolahan tetap menjadi penyumbang utama perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS, kontribusi PDB industri pengolahan terhadap PDB nasional memiliki tren peningkatan dalam periode triwulan II-2022 sampai triwulan I-2026 yakni dari 17,92% menjadi 19,20%.

Adanya tren kenaikan rasio PDB ini memiliki arti bahwa industri pengolahan Indonesia tidak dalam fase deindustrialisasi sebagaimana yang diindikasikan oleh teori deindustrialisasi (Rowthorn dan Ramaswamy, 1999) dimana industri disuatu negara dikatakan mengalami deindustrialiasasi ketika rasio PDB nya terhadap PDB nasional menurun. 

"Berulang kali kami membantah bahwa tidak terjadi deindustrialisasi dini apalagi deindustrialisasi pada sektor manufaktur Indonesia. Dasarnya adalah data BPS yang menunjukkan bahwa ada tren peningkatan pada kontribusi PDB industri pengolahan terhadap PDB nasional,” ujar Febri dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (22/5).

Menurut Febri, kalangan yang menilai adanya deindustrialisasi pada manufaktur Indonesia telah keliru dalam memahami data PDB BPS terutama data time series PDB industri pengolahan dalam periode 2005-2025. Kekeliruan tersebut diduga terjadi karena gagal memahami perubahan konsep dan definisi sektor industri pengolahan dan metode perhitungan nilai PDB industri pengolahan oleh BPS.

Pertama, konsep dan definisi industri pengolahan atau Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) telah berubah pada periode tertentu. Konsep dan definisi industri pengolahan pada tahun 2000 misalnya, masih memasukkan tiga subsektor ekonomi ke dalam sektor industri pengolahan.

Tiga subsektor ekonomi tersebut adalah subsektor Pengadaaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang, subsektor informasi dan komunikasi, dan subsektor Jasa Lainnya. Pada tahun 2010, tiga subsektor ini kemudian dipisah menjadi sektor tersendiri dalam KBLI BPS dengan perhitungan PDB terpisah dari perhitungan PDB industri pengolahan. 

Akibat pemisahan ini, PDB industri pengolahan berkurang karena perhitungannya tidak lagi memasukkan PDB tiga sektor baru tersebut. Pengurangan PDB ini kemudian juga diikuti dengan pengurangan rasio PDB industri pengolahan terhadap PDB nasional.

Kedua, metode perhitungan PDB masing-masing subsektor ekonomi juga berubah terutama metode perhitungan PDB seri 2000 dan seri 2010. Perhitungan PDB seri 2000 didasarkan pada harga produsen sedangkan PDB seri 2010 didasarkan pada harga dasar dimana merupakan harga keekonomian barang dan jasa di tingkat produsen sebelum adanya intervensi pemerintah seperti pajak dan subsidi atas produk.

Akibatnya, nilai PDB industri pengolahan semakin berkurang dan kemudian juga diikuti oleh penurunan rasio PDB Industri Pengolahan terhadap PDB nasional. 

Dengan demikian maka nilai PDB industri pengolahan dan rasio perbandingan nya terhadap PDB nasional dalam periode 2005-2025 tidak dapat dibandingkan karena konsep dan definisi industri pengolahan dan serta metode perhitungan PDB telah berubah. Oleh karena itu, perbandingan rasio PDB hanya bisa dilakukan pada periode tertentu dimana konsep dan definisi Industri Pengolahan dan metode perhitungan nilai PDB nya sama.

“Kami menduga ada kekeliruan pemahaman atas data PDB industri pengolahan dan kontribusinya periode 2005-2025 yang terjadi pada kalangan yang menilai industri pengolahan Indonesia telah mengalami deindustrialisasi. Sayangnya, hal tersebut membawa mereka pada kesimpulan dan rekomendasi yang salah,” ungkap Febri. 

Bukti lain yang menunjukkan industri pengolahan Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi adalah tidak adanya shifting atau pergeseran tenaga kerja dari sektor Industri Pengolahan ke sektor lain terutama sektor jasa. 

Pada masa pasca pandemi Covid 19 tahun 2021 sampai tahun 2025, industri pengolahan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 18,7 juta orang dan naik menjadi 20,3 juta orang atau naik sebesar 8,63 persen. Pada periode yang sama, angkatan kerja juga tumbuh 11,82 persen melebihi pertumbuhan tenaga kerja manufaktur. 

Data ini menunjukkan bahwa industri pengolahan terus tumbuh dan juga telah menyerap tenaga kerja lebih banyak dari periode sebelumnya. Pekerja industri tetap bekerja pada industri pengolahan dan tidak pindah kerja pada sektor ekonomi lainnya. Jika ada sektor ekonomi diluar industri pengolahan yang pertumbuhan tenaga kerjanya lebih tinggi maka hal tersebut diisi oleh angkatan kerja baru yang terus tumbuh.

“Industri pengolahan tetap mampu mempertahankan jumlah tenaga kerjanya sampaikan tahun 2025 dan bahkan tumbuh rata-rata sebesar 2,78 persen per tahunnya. Tidak ada shifting atau pergeseran tenaga kerja industri pengolahan keluar sektor ini. Pekerjaan pada industri pengolahan tetap kompetitif dan berkelanjutan dimata pekerjanya ataupun calon tenaga kerja baru yang akan memasuki sektor tersebut,” ujar Febri.

Manufaktur Tumbuh Lebih Tinggi

Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, untuk pertamakalinya pertumbuhan industri pengolahan berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan industri yang melebihi pertumbuhan ekonomi pernah terjadi pada tahun 2011 dimana pertumbuhan industri pengolahan sebesar 6,26 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,17 persen. 

Setelah tahun 2011, pertumbuhan industri pengolahan terus dibawah pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan kembali berada pada pertumbuhan ekonomi sebesar 5,30 persen dan 5,11 persen.

“Pertumbuhan industri pengolahan diatas pertumbuhan ekonomi nasional dapat dicapai dalam 13 tahun terakhir tercapai berkat arahan Bapak Presiden Prabowo dalam Asta Cita yang berpihak dan melindungi industri nasional dan pekerjanya,” ujar Febri.

Selain itu, investasi dan fasilitas baru juga melonjak. Sampai tanggal 23 April 2026, terdapat 633 perusahaan yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru. Nilai investasinya tinggi, mencapai Rp418,62 triliun dengan potensi menyerap 219.684 tenaga kerja.

Menutup keterangannya, Febri mengajak seluruh pelaku industri untuk tetap optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan. Pemerintah akan selalu membela kepentingan industri dan pekerja dalam menghadapi peningkatan ketidakpastian global ke depan. (Ilham)
Share:

Energy AdSport Challenge Jadi Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Energy AdSport Challenge Jadi Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis. (Dok. Pertamina)

Bandung, WaraWiri.net - Kompetisi regional Energy AdSport Challenge yang menjadi bagian dari rangkaian Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 sukses digelar. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Energy AdSport Challenge hadir sebagai inovasi baru dalam PGTC untuk menjaring dan mewadahi mahasiswa berprestasi di jalur non-akademis melalui kreativitas, sportivitas, dan kolaborasi.

Berlangsung sejak 19 Mei 2026, ajang ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat dan Jabodetabek. Melalui kategori Mini Soccer dan 3x3 Basketball, mahasiswa diajak membangun sportivitas dan mental kompetitif yang sehat. Sementara melalui Advertising Competition dan Band Competition, peserta ditantang menyalurkan kreativitas dalam mengampanyekan pesan-pesan energi masa depan.

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa Energy AdSport Challenge 2026 dirancang khusus untuk mengisi ruang pengembangan bakat yang sering kali luput dari penilaian ruang kelas konvensional.

“Tahun ini, PGTC melakukan terobosan dengan menghadirkan Energy AdSport Challenge. Kami ingin menegaskan bahwa prestasi mahasiswa tidak hanya lahir di dalam laboratorium atau ruang kuliah. Lewat jalur non-akademis ini, Pertamina menyediakan panggung bagi generasi muda yang andal dalam kerja sama tim, komunikasi kreatif, dan kepemimpinan lapangan. Ini adalah investasi nyata Pertamina dalam membentuk future leaders yang adaptif,” ujar Baron.

Puncak kegiatan ditandai dengan awarding session yang digelar meriah bersamaan dengan Kick Off PGTC 2026 di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (21/5).

Dalam kategori Sport Competition, STKIP Pasundan tampil dominan dengan capaian yang menonjol, disusul oleh deretan raihan impresif dari berbagai perguruan tinggi lainnya yang menunjukkan talenta terbaik mereka.

Sebagai inovasi dari PGTC 2026, Energy AdSport Challenge ini mendukung penuh implementasi pembelajaran holistik di perguruan tinggi. Energy AdSport Challenge juga menjadi mitra strategis kampus dalam memfasilitasi pengembangan soft skills mahasiswa secara praktis, sejalan dengan semangat merdeka belajar yang menyeimbangkan capaian akademik dan talenta non-akademik.

Kompetisi ini menjadi jembatan yang menyaring talenta muda unggulan dengan kompetensi yang dibutuhkan industri modern—seperti kemampuan berpikir kreatif, tangguh di bawah tekanan, serta keluwesan dalam berkolaborasi dan berkomunikasi.

Selain itu, melalui pendekatan yang relevan dengan Gen-Z, program ini mengakselerasi peningkatan kualitas SDM nasional. Mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga diasah kepekaannya terhadap isu strategis nasional, seperti ketahanan energi dan keberlanjutan (sustainability).

Melalui inovasi PGTC 2026, Pertamina berkomitmen untuk terus memperluas ekosistem inklusif yang mendorong mahasiswa menjadi individu yang kreatif, inovatif, tangguh, dan siap berkontribusi bagi masa depan energi Indonesia. (Subhan)
Share:

Pertamina dan ERIA Perkuat Kemitraan Strategis di Bidang

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza Bersama Direktur SPPU Pertamina Emma Sri Martini dan Jajaran Direksi Subholding Pertamina melakukan sesi foto bersama usai Signing For Energy Transition/CCS Topics saat acara 50th IPA Convex Day 2 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten. (Dok. Pertamina)

Tangerang, WaraWiri.net - Pertamina dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) resmi menjalin kolaborasi strategis. Kolaborasi dimaksud dituangkan dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) "Research Collaboration and Joint Study on the Development of Sustainable Energy Transition Pathways". Penandatangan MoU ini menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian acara IPA Convex 2026. 

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha (SPPU) Pertamina Emma Sri Martini dengan Chief Operating Officer (COO) ERIA Dr. Takayuki Yamanaka.

Emma menyampaikan bahwa Pertamina berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam mendukung kemandirian energi nasional dan juga mendukung transisi energi. Untuk itu, Pertamina terus mengembangkan kapabilitasnya dan kemampuannya dengan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk di dalamnya lembaga-lembaga pemikir (think tank).

"Kemandirian energi dan transisi energi merupakan dua strategi yang dijalankan oleh Pertamina secara bersamaan. Kedua hal ini memperkuat satu dengan yang lainnya. Ini juga merupakan implementasi Dual Growth Strategy Pertamina," jelas Emma.

Emma menjelaskan, Pertamina saat ini menjalankan dua pilar utama strategi bisnis, yakni mengoptimalkan bisnis eksisting berbasis energi fosil serta mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon. 

Nota Kesepahaman ini mencakup dua pilar utama kerja sama, yakni analisis kebijakan dan ekonomi di sektor energi, serta pengembangan kapasitas (capacity building) dan pertukaran pengetahuan (knowledge exchange).

Implementasi nota kesepahaman akan dilaksanakan oleh Pertamina Energy Institute (PEI) sebagai lembaga pemikir (think tank) strategis di Pertamina. 

"Melalui kemitraan dengan ERIA, Pertamina akan memperoleh dukungan berupa kajian kebijakan berbasis riset, analisis ekonomi energi yang komprehensif, serta penguatan kapasitas institusional yang selaras dengan pengembangan portofolio bisnis dan strategi jangka panjang Perusahaan," kata Emma.

Emma juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi strategis Pertamina di kawasan regional di tengah dinamika transisi energi global yang terus berkembang.

"Dengan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk di dalamnya lembaga pemikir level internasional akan meningkatkan kapasitas para pihak," tutupnya.

Pada sesi yang sama, Pertamina Grup juga melakukan penandatangan beberapa kerja sama di antaranya JSA CCS Amonia antara PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Pupuk Indonesia; HoA CCS Asri Basin antara PHE dan Exxon serta MOU CCS di Wilayah Kerja Pertamina antara PT Pertamina (Persero), PHE dan ERIA.

ERIA merupakan think tank internasional yang didirikan pada tahun 2007, dengan fokus kajian pada dimensi ekonomi dan kebijakan di kawasan ASEAN dan Asia Timur. Lembaga ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI), serta diakui secara luas atas keunggulannya dalam analisis kebijakan energi di tingkat regional. (Subhan)
Share:

Angga Raka Prabowo: Frekuensi Radio Jadi Penopang Kedaulatan Digital Indonesia

Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo saat menjadi narasumber dalam sesi wawancara di Balmon SFR Kelas I Yogyakarta. (Dok. Kemenkomdigi)

Yogyakarta, WaraWiri.net - Pemerintah memperkuat pengawasan spektrum frekuensi radio sebagai fondasi utama layanan digital nasional, mulai dari internet dan komunikasi seluler hingga pengembangan teknologi AI dan sistem transportasi modern.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo menegaskan pengelolaan spektrum frekuensi radio menjadi faktor penting dalam menjaga kedaulatan digital Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi global dan kecerdasan artifisial.

“Frekuensi ini sangat strategis dan sangat penting. Dari radio, komunikasi sampai sektor transportasi, semua memakainya. Frekuensi adalah kunci kita untuk melakukan transformasi digital,” kata Angga dalam sesi wawancara di Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Yogyakarta, Jumat (22/05/2026).

Ia mengaitkan pentingnya pengelolaan frekuensi dengan amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikelola negara untuk kemakmuran rakyat.

Menurutnya, spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam yang bersifat terbatas yang harus dimanfaatkan secara optimal demi kepentingan nasional.

“Semua negara di dunia menganggap frekuensi sebagai hal yang sangat strategis. Karena itu, setiap negara melakukan pengaturan, penataan dan penjagaan terhadap spektrum frekuensinya masing-masing,” tutur Angga.

Lebih lanjut, Wamenkomdigi Angga menilai pengawasan spektrum frekuensi radio menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), Internet of Things (IoT), dan percepatan transformasi digital nasional.

Pemerintah, kata dia, terus memperkuat regulasi dan sistem pengawasan agar pemanfaatan spektrum frekuensi berjalan tertib, efisien, dan tidak saling mengganggu antar layanan.

“Tantangan dalam mengelola frekuensi tentu sangat banyak. Pemerintah sendiri membuat regulasi, membuat aturan, menyiapkan software untuk mengawasi dan menjaga spektrum ini. Kita juga menata pembagian frekuensi untuk telekomunikasi, radio, transportasi, dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.

Selain penguatan regulasi dan teknologi pengawasan, Angga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) digital yang unggul agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan teknologi global.

“Di tengah cepatnya transformasi digital dan perkembangan teknologi, negara sebagai pengatur dan pelayan masyarakat, membutuhkan SDM yang handal. Negara harus menyiapkan dan melahirkan SDM unggul agar kita tidak tertinggal,” tegasnya.

Selain itu, Angga juga menyoroti pentingnya edukasi publik mengenai peran spektrum frekuensi radio dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan digital seperti internet, telepon seluler, WiFi, hingga GPS tanpa memahami bahwa seluruh layanan tersebut bergantung pada pengelolaan spektrum frekuensi radio yang baik.

“Tentunya sangat penting mengedukasi masyarakat tentang bagaimana spektrum frekuensi radio berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari, terutama dalam komunikasi dan teknologi. Jadi menurut saya edukasi sejak dini soal frekuensi perlu digaungkan sejak usia dini,” pungkasnya. (Alif)
Share:

Gubernur BI Lantik Pemimpin Satuan Kerja di Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, melantik 3 Pemimpin Satuan Kerja Bank Indonesia, di Jakarta. (Dok. Bank Indonesia)

Jakarta, WaraWiri.net - Pelantikan ini merupakan bagian dari agenda transformasi organisasi untuk mewujudkan visi dan misi Bank Indonesia yang memiliki tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Gubernur Bank Indonesia menyampaikan harapan agar para pemimpin satuan kerja yang baru dilantik dapat menjalankan berbagai program prioritas untuk mendukung pelaksanaan tugas Bank Indonesia memperkuat stabilitas serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Para pemimpin satuan kerja juga diimbau untuk terus memperkuat sinergi, koordinasi, dan komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna mendukung pelaksanaan kebijakan Bank Indonesia.

Pemimpin satuan kerja yang dilantik adalah sebagai berikut:

1. Rudy Brando Hutabarat sebelumnya menjabat Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara menjadi Kepala Departemen Regional, efektif 1 Juni 2026.
2. Sofwan Kurnia sebelumnya menjabat Advisor Departemen Regional menjadi Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Banten, efektif 1 Juni 2026.
3. Ameriza M. Moesa sebelumnya menjabat Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Banten menjadi Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, efektif 1 Juni 2026. (Dimas)
Share:

Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda melalui LIKE IT 2026

Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda melalui LIKE IT 2026. (Dok. Bank Indonesia)

Yogyakarta, WaraWiri.net - Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS terus memperkuat literasi keuangan generasi muda di tengah tingginya dinamika ekonomi global yang dipenuhi berbagai tantangan dan pesatnya transformasi digital. Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi finansial masyarakat, tidak terkecuali generasi muda. 

Untuk itu, literasi keuangan bukan sekadar memahami produk keuangan atau investasi, tetapi membangun kemampuan mengambil keputusan finansial yang bijak dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, saat menyampaikan keynote speech dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) di Yogyakarta, Jumat (22/5). 

Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Keuangan, Ketua Dewan Komisioner OJK, Ketua Dewan Komisioner LPS, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Rektor Universitas Gadjah Mada.

Di tengah dinamika global tersebut, Bank Indonesia memastikan setiap kebijakan yang ditempuh diarahkan untuk memperkuat stabilitas sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di antaranya melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan.

Aida menegaskan bahwa Bank Indonesia meningkatkan inklusi dan literasi keuangan dari dua arah. Pertama, melalui pengembangan instrumen pasar uang yang memperluas pilihan investasi bagi masyarakat dan korporasi. 

“Supaya investor mau menanam modalnya di Indonesia dan masyarakat tetap memegang aset dalam Rupiah,“ tegas Aida.

Kedua, mendorong inovasi sistem pembayaran digital antara lain melalui QRIS yang membuat transaksi serta akses ke produk keuangan dan investasi semakin cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Pada kesempatan tersebut, Aida juga mengajak generasi muda agar paham digital, selalu tumbuh, dan matang finansial.

“Harus cerdas, cermat, dan cuan dalam memilih portofolio investasi!" Aida mengimbau.

Sebagai bagian dari pelaksanaan tugas dan kewenangannya dan sekaligus mendukung LIKE IT 2026, Bank Indonesia terus memperluas inklusi ekonomi dan keuangan digital melalui penguatan ekosistem sistem pembayaran melalui pengembangan QRIS. Hingga April 2026, QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant, yang mayoritas merupakan UMKM.

Selain itu, Bank Indonesia turut mendorong pengembangan talenta digital melalui berbagai program inovasi seperti Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dan Digdaya x Hackathon guna mempersiapkan generasi muda yang inovatif, adaptif, dan siap menghadapi transformasi ekonomi digital. Bank Indonesia secara aktif juga menjalankan upaya pelindungan konsumen melalui program PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan) guna meningkatkan awareness masyarakat terhadap berbagai risiko fraud dan kejahatan digital.

LIKE IT merupakan program kolaborasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia, OJK, dan LPS guna memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda. LIKE IT di Yogyakarta yang dirangkaikan dengan Business Talk Jogja Financial Festival 2026 adalah penyelenggaraan ke-3.

Kegiatan ini sekaligus merupakan grand launching LIKE IT 2026 dengan tema “Financial Survival for Young Generation". LIKE IT 2026 akan dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia dengan penyelenggaraan ke-1 dan ke-2 telah dilaksanakan di Palembang dan Ambon pada Maret dan April 2026.

Melalui LIKE IT 2026, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS akan terus memperkuat sinergi edukasi dan literasi keuangan guna mendukung stabilitas sistem keuangan, memperluas basis investor domestik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, kuat, dan berkelanjutan. (Dimas)
Share:

KPK Gesa Pembenahan SPMB NTT 2026/2027 sebagai Pintu Pertama Integritas Sekolah

KPK Gesa Pembenahan SPMB NTT 2026/2027 sebagai Pintu Pertama Integritas Sekolah. (Dok. KPK)

Kupang, WaraWiri.net - Upaya pencegahan korupsi di sektor pendidikan kembali menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, proses penerimaan siswa baru merupakan titik krusial yang menentukan kualitas tata kelola pendidikan sekaligus fondasi integritas generasi masa depan.

Sorotan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pencegahan Korupsi di Kota Kupang, Jumat (22/5), yang mempertemukan pemerintah daerah, pengawas layanan publik, hingga para kepala sekolah. KPK memandang, berbagai praktik penyimpangan dalam proses penerimaan siswa baru berpotensi menjadi pintu masuk tumbuhnya budaya koruptif di lingkungan pendidikan apabila tidak segera dibenahi secara sistematis.

Direktur Koordinasi dan Supervisi Wilayah V KPK, Maruli Tua, menegaskan bahwa SPMB tidak boleh dipandang sekadar agenda administratif tahunan, melainkan bagian dari pelayanan publik yang menyangkut hak dasar masyarakat.

“SPMB tidak boleh menjadi ruang transaksi. Ini adalah layanan publik untuk menjamin hak anak mendapatkan pendidikan yang adil,” tegasnya.

KPK menilai, penguatan integritas dalam sektor pendidikan menjadi semakin penting seiring masih ditemukannya berbagai kerentanan tata kelola. Data Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 menunjukkan indeks integritas pendidikan di NTT berada pada angka 70,44, sedikit di atas rata-rata nasional sebesar 69,50. Meski demikian, capaian tersebut masih berada pada level “integritas korektif”, yang menunjukkan perlunya pembenahan signifikan dalam sistem pengelolaan pendidikan.

Jika ditelaah lebih jauh, dimensi tata kelola menjadi titik paling rentan dengan skor 61,32, jauh di bawah aspek karakter yang mencapai 76,88 dan ekosistem pendidikan sebesar 72,88. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan integritas di sektor pendidikan tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lemahnya sistem pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas layanan publik.

“Dalam konteks SPMB, kelemahan ini berpotensi membuka celah bagi berbagai praktik penyimpangan,” ungkap Maruli Tua, kepada peserta rapat yang hadir secara luring di Aula Inspektorat Provinsi NTT maupun daring melalui aplikasi.

Dalam pemetaan risiko yang dilakukan KPK, praktik pungutan liar (pungli) masih menjadi persoalan dominan dalam proses penerimaan siswa baru. Modus yang ditemukan beragam, mulai dari biaya daftar ulang, uang bangku, hingga kewajiban pembelian atribut tertentu tanpa dasar hukum yang jelas. Selain itu, praktik “titipan” calon siswa oleh pihak tertentu dinilai terus mengancam prinsip keadilan dan meritokrasi dalam akses pendidikan.

KPK juga menyoroti praktik manipulasi data yang kerap muncul setiap musim penerimaan siswa baru, seperti rekayasa domisili, penyalahgunaan jalur afirmasi, hingga perubahan daftar siswa yang diterima. Di sisi lain, maladministrasi turut menjadi perhatian, mulai dari ketidakjelasan daya tampung sekolah, lambatnya penanganan pengaduan, hingga proses pengambilan keputusan yang tidak terdokumentasi secara baik.

“Celah tata kelola yang lemah, jika dibiarkan, akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi budaya yang salah,” ujar Maruli.

Senada dengan KPK, Plt. Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Philippus Max Jemadu, menilai potensi maladministrasi dalam pelaksanaan SPMB masih cukup tinggi. Ia menyoroti berbagai modus penyimpangan yang terus berulang, mulai dari manipulasi kartu keluarga untuk memenuhi syarat jalur tertentu, penyalahgunaan jalur afirmasi, praktik jual beli kursi dan titipan siswa, hingga gangguan sistem aplikasi penerimaan.

Menurutnya, persoalan tersebut semakin kompleks karena masyarakat masih menghadapi keterbatasan kanal pengaduan yang aman dan mudah diakses. Kekhawatiran terhadap tekanan maupun intimidasi juga membuat banyak dugaan pelanggaran tidak dilaporkan secara terbuka.

“Pelapor cenderung memilih merahasiakan identitas karena adanya potensi tekanan maupun intimidasi,” kata Philippus.

Pembenahan Bersama

Sebagai langkah perbaikan, rapat koordinasi menghasilkan sejumlah komitmen penguatan pengawasan dan tata kelola SPMB di NTT. Pemerintah daerah memastikan seluruh satuan pendidikan mematuhi Peraturan Gubernur NTT Nomor 52 Tahun 2021 tentang Pengendalian Gratifikasi serta Peraturan Gubernur NTT Nomor 53 Tahun 2025 tentang Pendanaan Pendidikan.

Dalam kesepakatan tersebut ditegaskan larangan terhadap berbagai bentuk pungutan ilegal, termasuk uang komite, uang pembangunan, maupun sumbangan sukarela yang pada praktiknya bersifat wajib. Larangan juga mencakup biaya daftar ulang yang dikaitkan dengan penerimaan siswa, pungutan untuk syarat ujian, hingga penahanan ijazah.

Tak hanya itu, praktik “titipan” calon siswa di luar mekanisme resmi juga menjadi perhatian utama. KPK menilai praktik tersebut tidak hanya merusak kredibilitas sistem seleksi, tetapi juga mencederai hak masyarakat memperoleh akses pendidikan yang adil dan transparan.

Sebagai tindak lanjut konkret, pemerintah daerah diminta menetapkan dan mempublikasikan petunjuk teknis (juknis) SPMB secara terbuka. Informasi mengenai daya tampung sekolah, kuota jalur penerimaan, jadwal seleksi, hingga mekanisme pengaduan diwajibkan mudah diakses masyarakat.

Selain itu, dibentuk pula posko atau helpdesk pengaduan yang melibatkan Ombudsman dan Inspektorat guna memperkuat pengawasan serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melapor.

Komitmen Integritas dari Sekolah

Rapat koordinasi tersebut juga menghasilkan komitmen bersama dari para kepala sekolah di seluruh NTT untuk menolak segala bentuk suap dan gratifikasi dalam proses penerimaan siswa baru.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan pakta integritas dan deklarasi terbuka antikorupsi yang diumumkan secara daring maupun luring agar diketahui publik.

Selain aspek tata kelola keuangan, kepala sekolah juga diingatkan untuk menerapkan mekanisme penanganan kekerasan sesuai Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Langkah ini menegaskan bahwa integritas pendidikan tidak hanya berbicara soal transparansi anggaran, tetapi juga menyangkut terciptanya lingkungan belajar yang aman, sehat, dan berkeadilan.

Sebagai bentuk pengawasan berkelanjutan, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di NTT diwajibkan melaporkan perkembangan implementasi hasil rapat setiap tiga bulan secara berkala. Evaluasi akan dilakukan untuk memastikan seluruh komitmen yang disepakati benar-benar dijalankan di lapangan.

KPK menegaskan, pencegahan korupsi di sektor pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pengawas, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun sistem pendidikan yang bersih, transparan, dan berintegritas.

Rapat tersebut turut dihadiri Inspektur Daerah Provinsi NTT Stefanus F. Halla, Inspektur Daerah Kota Kupang Frengki Amalo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Oktovianus Naitboho, serta para kepala sekolah dan pengawas SMA, SMK, SLB se-Provinsi NTT dan kepala sekolah serta pengawas SMP se-Kota Kupang. (Siti)
Share:






ADVERTISING

ADVERTISING