Jakarta, WaraWiri.net - Menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Yayasan Kartini Heritage Center menghadirkan pameran bertajuk ‘Dari Ikrar Menjadi Warisan’. Pameran ini merupakan rangkaian The Legacy Relay 2026. Melalui koleksi foto dan buku bersejarah, pameran ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal kembali sejarah dan pemikiran tokoh bangsa.
Pameran yang berlangsung pada 20–30 Oktober 2026 ini mengangkat sejumlah tema, yakni Sumpah Pemuda, R.A. Kartini, Mohammad Hatta, dan B.J. Habibie. Setiap tema membawa kisah dan nilai yang berbeda, mulai dari semangat persatuan dan perjuangan pendidikan hingga integritas dan inovasi. Melalui beragam koleksi yang ditampilkan, pengunjung dapat menelusuri kembali jejak pemikiran dan kontribusi mereka bagi bangsa.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto mengatakan, pameran ini menjadi salah satu upaya mendayagunakan koleksi Perpusnas agar nilai-nilai sejarah dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat. Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi buku langka, literatur, dan foto bersejarah, baik dalam bentuk cetak maupun digital
“Perpustakaan Nasional bukan hanya menghimpun, menjaga warisan, tetapi juga mendayagunakan agar koleksi Perpusnas dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Suharyanto dalam pembukaan pameran tersebut di Gedung Layanan Perpusnas, Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Ketua Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra, mengatakan perjuangan tokoh bangsa tidak berhenti pada zamannya, tetapi juga meninggalkan nilai-nilai yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Ia mencontohkan perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan kesempatan, semangat persatuan para pemuda pada 1928, serta keteladanan Mohammad Hatta dan B.J. Habibie.
“Cara terbaik untuk menghormati para pendahulu tidak hanya dengan mengingat nama-nama mereka, tetapi dengan meneruskan nilai-nilai yang mereka perjuangkan,” ujar Joddy.
Menurutnya, warisan tidak harus berupa sesuatu yang besar. Ia menekankan, setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang berarti bagi generasi berikutnya, baik melalui ilmu yang dibagikan, kesempatan yang dibuka, nilai yang dijaga, maupun karya yang bermanfaat bagi sesama. Ia juga berharap, pameran ini tidak berhenti menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran untuk berkontribusi bagi masa depan.
“Harapannya dengan pameran ini, pengunjung bisa lebih melihat. Kemudian nanti ada rasa penasaran, lalu mereka bisa membuka buku sejarah. Dan harapannya ketika mereka membuka buku sejarah, mereka bisa mengambil nilainya dari sini,” ujar Joddy.
Rangkaian The Legacy Relay 2026 berlanjut pada Rabu (21/10) melalui sebuah forum seminar yang mempertemukan generasi penerus tokoh bangsa, para penggerak dari berbagai bidang, dan anak muda Indonesia. Melalui kegiatan ini, Yayasan Kartini Heritage Center ingin membuka ruang berbagi gagasan tentang warisan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya, baik melalui ilmu, kesempatan, maupun karya yang bermanfaat bagi masyarakat. (Deni)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar