Jakarta, WaraWiri.net - Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pembelajaran dari berbagai praktik baik, termasuk pengalaman Jepang dalam menjalankan program makan gratis para siswanya. Upaya tersebut dilakukan melalui audiensi BGN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia, Rabu (23/9).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar mengatakan, pertemuan dengan JICA menjadi bagian dari upaya BGN untuk memperluas pembelajaran dan menggali pengalaman negara lain dalam menyelenggarakan program makan bagi peserta didik.
“Intinya adalah kami ingin belajar dari negara yang salah satu yang terbaik dalam program free meals-nya. Kami sedang mempelajari hal-hal yang bisa kita dapat dari program tersebut, mulai dari cara pelaksanaan, penanganan, hingga peran masing-masing pihak,” ujar Mas Dar.
Menurut Mas Dar, pembelajaran tersebut tidak hanya mencakup aspek penyelenggaraan makanan, tetapi juga tata kelola dan keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem program.
Dalam praktik di Jepang, BGN mempelajari peran sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, hingga orang tua dalam mendukung keberlangsungan program.
“Kami ingin banyak mendengar, banyak belajar, banyak melihat, kemudian banyak mengadopsi yang baik-baik dan yang bagus-bagus dari banyak sumber, sehingga program free meals kita ini bisa berjalan sebaik-baiknya di Indonesia,” kata Mas Dar.
Audiensi BGN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia
Kerja sama antara Indonesia dan JICA dalam konteks pembelajaran program makan bagi siswa telah terbangun sejak 2024 dan akan terus berlanjut. Salah satu bentuknya dilakukan melalui pengiriman peserta pelatihan ke Jepang untuk mempelajari secara langsung penyelenggaraan program free meals bagi siswa.
Dalam audiensi tersebut, BGN juga memperoleh pembelajaran mengenai variasi model penyediaan makanan di Jepang. Mas Dar menjelaskan, penyelenggaraan program makan bagi siswa di Jepang tidak seluruhnya dilakukan dengan memasak makanan di sekolah. Selain model yang dimasak langsung di sekolah, terdapat pula model Central Kitchen, yakni makanan diproduksi di dapur terpusat, kemudian dibawa ke sekolah untuk didistribusikan kepada siswa.
“Di Jepang sendiri juga mengadopsi adanya Central Kitchen. Jadi ada dua tipe, ada yang dimasak di sekolah, tetapi ada juga yang menggunakan model Central Kitchen, yaitu makanan dibuat di Central Kitchen, kemudian dibawa ke sekolah dan didistribusikan di sekolah,” jelas Mas Dar.
Pembelajaran mengenai model tersebut menjadi salah satu referensi baru bagi BGN untuk melihat kemungkinan penyesuaian praktik yang relevan dengan pelaksanaan MBG di Indonesia. Menurut Mas Dar, pengalaman Jepang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk terus menyempurnakan model penyelenggaraan MBG sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.
“Ini menjadi satu pelajaran baru. Siapa tahu kita bisa juga meniru dengan langkah-langkah yang barangkali perlu di-adjust terhadap pelaksanaan MBG bagi kita,” tutur Mas Dar.
Mas Dar menegaskan, BGN terbuka terhadap pengalaman dan inovasi dari berbagai pihak sebagai bagian dari proses penguatan penyelenggaraan MBG. Pembelajaran tidak hanya diarahkan kepada satu negara, tetapi juga dapat dilakukan dengan melihat pengalaman berbagai negara yang memiliki program sejenis.
“BGN tidak menutup mata bahwa kita ada persoalan, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap inovasi, pengalaman best practice, atau pengalaman terbaik dari banyak pihak, termasuk dari negara lain. Apakah Jepang, India, Brasil, dan banyak negara lainnya,” ujar Mas Dar.
Menurutnya, berbagai pengalaman tersebut selanjutnya dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, BGN berupaya memastikan setiap pembelajaran yang diperoleh dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan tata kelola dan pelaksanaan MBG.
“Yang kita cari adalah model seperti apa yang kemudian terbaik yang bisa kita lakukan dengan yang sekarang sudah ada. Tinggal kita adopsi sedikit dan kita sesuaikan,” pungkas Mas Dar. (Deni)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar