Palu, WaraWiri.net - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan semangat baru generasi muda di sektor pertanian saat berdialog dengan mahasiswa dan alumni Universitas Tadulako (Untad), Palu, Kamis (20/8). Di tengah keterbatasan modal, sekelompok alumni Untad justru berani mengelola lahan pertanian hingga sekitar 300 hektare dan membangun usaha melalui Brigade Pangan.
Kelompok yang beranggotakan sekitar 15 orang tersebut menyampaikan kepada Mentan Amran bahwa mereka telah mendapatkan lahan dengan sistem sewa. Namun, untuk mengelolanya, mereka masih harus menyewa alat mesin pertanian karena keterbatasan dana.
Mentan Amran mengapresiasi langkah para alumni tersebut yang memilih terjun langsung menjadi pelaku usaha pertanian. Menurut Mentan Amran, keberanian anak muda untuk mengelola lahan dan membangun usaha merupakan modal penting untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
"Jangan lagi mendapatkan pekerjaan. Kamu harus jadi orang kaya", ujar Mentan Amran.
Mentan Amran kemudian memberikan dukungan alat mesin pertanian untuk membantu pengembangan usaha Brigade Pangan tersebut. Ia menyebut satu unit combine harvester senilai sekitar Rp600 juta dan satu unit traktor senilai sekitar Rp400 juta, dengan total dukungan sekitar Rp1 miliar.
"Saya kasih combine satu harga 600 juta, saya kasih traktor satu harga 400. Itu 1 miliar. Saya senang anak muda gini", kata Mentan Amran.
Namun, Mentan Amran menegaskan bantuan tersebut harus diberikan secara tepat sasaran. Ia meminta tim terlebih dahulu mengecek lokasi, kesiapan kelompok, serta aktivitas pertanian yang dijalankan sebelum alat diserahkan.
"Combine jangan diserahkan kalau tidak. Lihat timnya, lihat kerjanya", tegas Mentan Amran.
Mentan Amran juga meminta agar para alumni tersebut tidak hanya mendapatkan bantuan alat, tetapi juga pendampingan secara berkelanjutan. Ia meminta pihak terkait membina kelompok tersebut hingga mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
"Tolong bina, apalagi kekurangannya sampai dia menjadi kaya," ujar Mentan Amran.
Mentan Amran menilai model usaha yang dijalankan para alumni Untad tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk berhenti memulai usaha. Dengan kemauan untuk bekerja dan mengelola lahan secara serius, sektor pertanian dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka peluang bagi masyarakat lainnya.
"Pendapatannya bisa 20 juta bersih per bulan. Itu di atas gaji menteri", ungkap Mentan Amran.
Dalam dialog tersebut, Mentan Amran juga mengajak para wisudawan Untad untuk tidak hanya berpikir menjadi pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Ia justru mendorong mereka mengikuti jejak para alumni yang berani membangun usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Tekanan pertama adalah jangan minta uang. Tekanan kedua jangan minta warisan. Tekanan ketiga jangan mendaftar-mendaftar. Ciptakan lapangan kerja", pesan Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, sektor pertanian memberikan ruang yang luas bagi generasi muda untuk membangun usaha. Lahan pertanian dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif, sementara inovasi dan teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan hasil serta efisiensi usaha.
Mentan Amran juga menemukan potensi pengembangan pertanian dari mahasiswa Fakultas Pertanian Untad. Salah seorang mahasiswa menyampaikan bahwa kampus memiliki lahan sekitar dua hektare untuk kegiatan pertanian dan penelitian, tetapi masih menghadapi kendala ketersediaan air.
Menanggapi aspirasi tersebut, Mentan Amran meminta agar dibangun sumur bor dan disiapkan pompa untuk mendukung kegiatan pertanian di lahan tersebut.
"Kasih pompa sumur bor untuk pertanian. Kerjakan ya. Setelah itu tanam jagung dan kamu tidur di tengahnya", ujar Mentan Amran.
Mentan Amran juga memberikan dukungan satu unit hand tractor untuk menunjang kegiatan pertanian dan penelitian mahasiswa. Ia meminta bantuan tersebut dimanfaatkan untuk praktik sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas.
"Buat jagung yang sebesar begini. Tapi tongkolnya lima atau sepuluh. Itu kerja, itu tugasnya", kata Mentan Amran.
Mentan Amran mengatakan perjalanan menjadi pengusaha membutuhkan ketahanan dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan. Ia menggambarkan proses membangun usaha seperti mencari sumber air yang membutuhkan kesabaran hingga akhirnya menghasilkan.
"Kalau bisnis itu sama dengan bor air. Kalau masih muda itu lumpur keluar. Tapi begitu tembus itu ada batu di bawah. Dan setelah tembus itu ada air jernih yang memancar sepanjang masa. Itulah bisnis", ujar Mentan Amran.
Karena itu, Mentan Amran meminta generasi muda tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan pada tahap awal membangun usaha. Ia mendorong para wisudawan untuk berani mengambil peluang, bekerja keras, dan menciptakan usaha yang tidak hanya menghidupi diri sendiri tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Mentan Amran berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menjadi pelaku usaha pertanian. Menurutnya, keberadaan petani muda seperti alumni Untad yang mampu mengelola ratusan hektare lahan dapat menjadi contoh bahwa pertanian bisa menjadi pilihan masa depan yang menjanjikan bagi generasi muda.
"Bukakan pintu jalan pemuda Indonesia untuk mengantar Indonesia menjadi super power. Jangan kita ego hidup", pungkas Mentan Amran. (Junaedi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar