Jakarta, WaraWiri.net - Pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem bulion nasional sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya emas Indonesia, sekaligus memperkuat sektor jasa keuangan berbasis emas. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan rantai nilai emas secara menyeluruh, mulai dari sisi hulu hingga pemanfaatannya dalam berbagai layanan dan instrumen keuangan.
Momentum tersebut didukung oleh besarnya potensi emas Indonesia di tengah meningkatnya permintaan emas global. Berdasarkan estimasi United States Geological Survey (USGS), Indonesia memproduksi sekitar 90 ton emas pada tahun 2025 atau sekitar 2,7% dari produksi emas dunia, dengan cadangan yang diperkirakan mencapai sekitar 3.600 ton atau sekitar 5,5% dari total cadangan emas global. Setahun setelah peluncuran Bulion Bank oleh Presiden Prabowo Subianto, jumlah emas yang dikelola dalam ekosistem bulion Indonesia telah mencapai 153,05 ton melalui PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia. Capaian tersebut menunjukkan semakin berkembangnya pemanfaatan emas sebagai bagian dari sektor jasa keuangan nasional.
Sektor hilir keuangan bulion tidak dapat berdiri sendiri, keberlanjutan berbagai layanan finansial berbasis emas sangat bergantung pada kepastian pasokan emas fisik yang aman, bertanggung jawab, dan terformalisasi di sisi hulu. Untuk melengkapi lingkaran ekosistem tersebut, penataan sektor Pertambangan Emas Rakyat dan Skala Kecil (Artisanal and Small-Scale Gold Mining) menjadi krusial agar hasil produksinya dapat terintegrasi dengan aman sebagai underlying asset yang sah di pasar formal. Untuk mendukung penguatan ekosistem tersebut, tata kelola pertambangan emas rakyat dan skala kecil perlu terus diperkuat.
Guna menjembatani urgensi integrasi hulu-hilir tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berkolaborasi dengan World Gold Council (WGC) dan Intergovernmental Forum on Mining (IGF) menyelenggarakan Bullion Academy Training pertama di Indonesia dengan tema Global Gold Market Overview dan Artisanal Mining and Small-Scale Gold Mining, Kamis (9/07), di Kantor Kemenko Perekonomian.
Menyoroti langkah strategis tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan menggarisbawahi bahwa perumusan kerangka kebijakan yang komprehensif dari regulator harus berjalan selaras dengan kesiapan kapasitas teknis (capability) para pelaksana dan pelaku pasar di lapangan. Visi besar Pemerintah yakni membangun interkoneksi yang utuh pada seluruh pilar aktivitas bisnis bulion mencakup aspek penambangan, pemurnian, custody, perdagangan, pembiayaan, hingga produk investasi akhir agar aktivitas keuangan ini tidak tumbuh secara terisolasi dari basis produksinya.
“Sektor keuangan menyediakan jalur (pathway) menuju inklusi formal, namun resiliensi pasar bulion yang tangguh mutlak memerlukan jaminan pasokan fisik yang bertanggung jawab. Pembangunan ekosistem yang berkelanjutan tidak dapat hanya bersandar pada penerbitan regulasi, melainkan harus diimbangi dengan penguatan kapabilitas institusi dan sumber daya manusia yang mengeksekusinya. Forum ini menjadi momentum krusial untuk membekali para pelaku industri agar memiliki kapasitas yang adaptif dalam mengelola risiko, memahami rantai pasok global, serta menerapkan prinsip keberlanjutan demi menjaga integritas pasar bulion Indonesia di tingkat internasional,” ujar Deputi Ferry.
Agenda capacity building tersebut menghimpun perspektif global dari narasumber ahli World Gold Council dan Intergovernmental Forum on Mining, Minerals, Metals and Sustainable Development (IGF). Paparan yang disampaikan berfokus pada dinamika pasar bulion global, standardisasi responsible sourcing, serta formulasi strategi penyerapan produksi hulu ke dalam infrastruktur pasar keuangan formal.
Melalui penguatan kapasitas terpadu tersebut, Pemerintah berkomitmen mengonstruksikan sinergi yang harmonis antara otoritas regulasi dan pelaku pasar keuangan. Masukan konstruktif dari lokakarya ini akan menjadi landasan penting dalam memformulasikan kebijakan yang adaptif dan berbasis kesiapan lapangan, guna memastikan ekosistem bulion nasional tumbuh sebagai pilar ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkompeten secara global.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya yakni perwakilan Kementerian/Lembaga, badan usaha, asosiasi, mitra internasional, serta berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan emas rakyat dan skala kecil. (Evi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar