Budidaya Sidat Nusakambangan Bekali Warga Binaan dan Hidupkan Ekonomi Warga

Budidaya Sidat Nusakambangan Bekali Warga Binaan dan Hidupkan Ekonomi Warga. (Dok. Kemenimipas)

Jawa Tengah, WaraWiri.net - Pulau Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai tempat pengasingan kini menumbuhkan harapan baru. Melalui program ketahanan pangan di sektor perikanan; budidaya ikan sidat di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi sarana pembinaan bagi Warga Binaan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Program yang digagas Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, ini merupakan bagian dari dukungan terhadap visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada agenda swasembada pangan. Di Nusakambangan, lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif diubah menjadi kawasan budidaya yang melibatkan langsung Warga Binaan, sekaligus merangkul masyarakat lokal sebagai mitra.

Bagi Warga Binaan, budidaya sidat menjadi ruang belajar yang nyata. Falda, Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Nusakambangan, mengaku bersyukur dapat dilibatkan dalam kegiatan ini.

“Saya berterima kasih kepada Bapak Menteri karena sudah dilibatkan dalam budidaya sidat ini, dan saya mendapatkan cukup ilmu untuk bekal saya nanti pas kembali di masyarakat,” ujar Falda.

Manfaat itu terus dirasakan bahkan setelah masa pidana selesai. Sairan, mantan Warga Binaan Lapas Nusakambangan, memilih melanjutkan pekerjaannya di kolam sidat usai bebas. Selain memperoleh keterampilan, ia kini menerima gaji pokok untuk menghidupi keluarganya.

“Saya bisa mendapatkan ilmu bagaimana cara membudidayakan sidat ini, dan saya mendapatkan gaji pokok untuk menghidupi keluarga saya di rumah,” tuturnya.

Geliat budidaya sidat juga menjawab persoalan lapangan kerja di sekitar Nusakambangan. Wahyu, warga Kroya yang kini bekerja sebagai operator budidaya, menceritakan bagaimana program ini mengubah keadaannya.

“Saya yang tadinya sulit mencari pekerjaan, sekarang bisa mendapat pekerjaan. Saya doakan semoga tambak sidat ini semakin maju,” katanya.

Selain operator, kegiatan ini turut menghidupi sektor pendukung, seperti penjahitan waring untuk kebutuhan kolam. Komarudin, penjahit waring asal Kaliwungusari, menyebut program tersebut sangat membantu warga sekitar.

“Program ini sangat membantu masyarakat. Saya jadi bisa kerja, jadi bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya. Semoga program ini terus berlanjut,” ungkapnya. Harapan serupa disampaikan Jasman, sesama penjahit waring, yang kini memiliki penghasilan tetap untuk menafkahi keluarganya.

Di sisi teknis, pengelolaan kualitas budidaya ditangani secara cermat. Yovieta Sorabila, Kepala Administrasi Teknis Budidaya Sidat, menjelaskan tanggung jawabnya mulai dari menjaga kualitas air melalui penggelontoran rutin, mengatur pemberian pakan pada pagi, sore, dan malam, hingga mencatat data tebar benih dari fase baby elver hingga elver.

Dampak program merembet hingga ke rantai pasok dan pelaku usaha kecil. Ade Rohman, Kepala Nelayan Glass Eel asal Cilacap, menuturkan bahwa kehadiran budidaya sidat membantu para nelayan menjual hasil tangkapan benih mereka.

Hal senada disampaikan Daryanto, Kepala Nelayan Sidat Alam dari Kampung Laut. Menurutnya, hasil tangkapan yang dahulu sulit terjual kini memiliki pembeli yang pasti, yaitu untuk memenuhi kebutuhan budidaya sidat di Nusakambangan.

“Dulu tangkapan kami jarang sekali laku, kadang laku kadang tidak. Sekarang sudah ada pembelinya untuk semua ukuran, sehingga bisa mencukupi kebutuhan para nelayan,” jelasnya.

Manfaat itu juga dirasakan Turini, pemilik warung di sekitar lokasi budidaya. Bertambahnya karyawan dan tamu yang berkunjung membuat warung kecilnya semakin ramai.

“Warung kecil kami, alhamdulillah, sekarang semakin banyak pengunjung. Saya doakan semoga program ini jangan pernah berhenti agar masyarakat kecil seperti kami terus memiliki pemasukan setiap harinya,” harapnya.

Beragam testimoni tersebut menegaskan bahwa program ketahanan pangan di Nusakambangan menghadirkan efek berganda — tidak hanya bagi Warga Binaan, tetapi juga bagi nelayan, pelaku usaha, dan masyarakat di sekitar kawasan. Pulau yang dahulu lekat dengan citra penjara kini perlahan bertransformasi menjadi kawasan kemandirian dan produktivitas.

Melalui program ini, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menegaskan komitmennya untuk menjadikan pembinaan Warga Binaan sebagai jalan menuju reintegrasi sosial yang bermartabat, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Dari Nusakambangan, langkah hari ini tak hanya membawa perubahan untuk sekarang, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi esok dan masa depan yang lebih baik bersama masyarakat. (Rizal)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar







ADVERTISING

ADVERTISING