Lapas Perempuan Malang Perkenalkan Smart Hygiene Booklet untuk Cegah Penyakit Kulit

Lapas Perempuan Malang Perkenalkan Smart Hygiene Booklet untuk Cegah Penyakit Kulit. (Dok. Ditjenpas)

Jawa Timur, WaraWiri.net - Upaya proaktif jaga standar kesehatan penghuni terus digalakkan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang. Salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkan adalah penggunaan media edukasi kreatif berupa Smart Hygiene Booklet. Fokus utama dari literasi kesehatan ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai pencegahan penyakit kurap (tinea corporis) yang sering menjadi tantangan di lingkungan hunian komunal.

Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara tim medis Lapas dengan peserta magang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sanitasi di lingkungan Pemasyarakatan.

Smart Hygiene Booklet dirancang dengan tampilan visual yang menarik serta bahasa yang sederhana agar informasi medis yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh seluruh Warga Binaan. Melalui pendekatan berbasis media cetak yang informatif ini, Lapas Perempuan Malang berharap kesadaran kolektif mengenai pentingnya personal hygiene dapat meningkat secara signifikan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya deteksi dini dalam memutus mata rantai penularan penyakit kulit akibat jamur di area blok hunian melalui edukasi yang berkelanjutan.

Sesi penyuluhan yang digelar untuk memperkenalkan buku saku ini mendapatkan sambutan hangat dan antusiasme tinggi dari para Warga Binaan. Mereka tidak hanya menerima buku saku, tetapi juga mendapatkan penjelasan teknis secara langsung mengenai faktor penyebab, mekanisme penularan, hingga langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan secara mandiri.

Inovasi ini dinilai efektif karena mampu menggabungkan aspek visual yang kuat dengan komunikasi dua arah, sehingga pesan-pesan kunci mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) tersampaikan lebih optimal.

Monic selaku perawat senior di Lapas Perempuan Malang memberikan penekanan tambahan mengenai pentingnya konsistensi dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar blok hunian. Menurutnya, keberadaan media edukasi ini harus dibarengi dengan perubahan perilaku nyata dari Warga Binaan.

“Jangan saling bertukar pakaian atau alat mandi karena itu jadi media penularan. Rutin jemur perlengkapan tidur guna meminimalkan kelembapan yang memicu pertumbuhan jamur,” tutur Monic.

Menurutnya, pengalaman panjangnya dalam menangani kesehatan Warga Binaan menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku harian menjadi kunci utama keberhasilan pencegahan penyakit menular.

Perawat Lapas Perempuan Malang, Ade Nina, juga menekankan aspek disiplin diri dalam menjaga sistem imun. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pencegahan penyakit kulit sangat bergantung pada konsistensi individu dalam menerapkan pola hidup yang benar.

“Kunci utama untuk menghindari penyakit kulit adalah kedisiplinan dalam menjaga kebersihan tubuh serta mengatur pola makan. Selain itu, kami menyarankan warga binaan untuk rutin mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup dan meluangkan waktu setidaknya 15 menit setiap hari untuk berolahraga guna memperkuat daya tahan tubuh,” ungkapnya.

Diharapkan dengan adanya Smart Hygiene Booklet dan pendampingan intensif dari tim kesehatan, Warga Binaan dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan diri. Pengetahuan yang diperoleh melalui literasi kesehatan ini diharapkan menjadi kebiasaan positif, sehingga tercipta lingkungan Lapas Perempuan Malang yang lebih sehat, bersih, dan mendukung proses pembinaan secara holistik bagi seluruh penghuni. Dengan lingkungan yang sehat, proses rehabilitasi Warga Binaan diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan kondusif. (Zikry)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar







ADVERTISING

ADVERTISING