IFP Ubah Cara Belajar Murid di Kabupaten Keerom dan Teluk Bintuni, Papua

IFP Ubah Cara Belajar Murid di Kabupaten Keerom dan Teluk Bintuni, Papua. (Dok. Kemendikdasmen)

Jakarta, WaraWiri.net - Transformasi pembelajaran anak usia dini melalui pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) semakin nyata di wilayah timur Indonesia. Praktik baik yang tumbuh di Kabupaten Keerom, Papua, hingga Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, memperlihatkan bagaimana teknologi pembelajaran mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan bagi murid PAUD/TK.

Di Kabupaten Keerom, Papua, ruang kelas TK Pembangunan Yapis kini berubah menjadi ruang eksplorasi digital. Layar sentuh berukuran besar memungkinkan anak-anak mengenal bentuk, warna, dan objek pembelajaran secara langsung melalui sentuhan tangan, bukan hanya mendengar penjelasan guru. Antusiasme murid terlihat setiap kali jadwal pembelajaran berbasis digital dimulai.

Kepala Sekolah TK Pembangunan Yapis, Winarsih, menyampaikan bahwa kehadiran IFP menjadi lompatan besar bagi pendidikan anak usia dini di wilayah perbatasan. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, tetapi memberi ruang bagi murid untuk aktif mencoba, memilih, dan bereksperimen dengan materi yang ditampilkan di layar interaktif.

Beragam konten digital pembelajaran menjadi menu favorit anak-anak. Mereka menggambar, mewarnai, hingga mengenali berbagai objek secara mandiri. Bagi sekolah yang selama ini identik dengan keterbatasan sarana, kehadiran IFP menjadi jendela dunia baru bagi murid PAUD.

Praktik baik serupa juga terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Di salah satu satuan PAUD/TK Negeri Pembina, IFP seolah menyihir murid-murid yang sebelumnya hanya mengenal papan tulis konvensional. Ketika gambar burung cenderawasih muncul di layar, kelas seketika dipenuhi tawa, kekaguman, dan rasa ingin tahu.

Bagi anak-anak di wilayah 3T, IFP tidak hanya sebuah perangkat elektronik. Kehadirannya menjadi simbol bahwa sekolah mereka mendapatkan perhatian dan kesempatan yang setara dengan sekolah di kota besar. Rasa percaya diri murid tumbuh seiring keyakinan bahwa mereka juga berhak memperoleh pembelajaran berbasis teknologi.

Dukungan Nasional dan Keberlanjutan Program
Secara nasional, dukungan terhadap digitalisasi pembelajaran PAUD terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Berdasarkan Laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, realisasi pengiriman IFP untuk jenjang PAUD telah mencapai 64.190 unit atau 100 persen dari alokasi, dengan jumlah sasaran akhir sebanyak 63.842 satuan pendidikan. Laporan tersebut juga mencatat terdapat 349 sasaran PAUD di wilayah bencana yang mendapat IFP. Sasaran di wilayah bencana direncanakan akan dipenuhi kembali pada tahun 2026.

Praktik baik di Kabupaten Keerom dan Teluk Bintuni membuktikan bahwa IFP mampu menjadi alat penguat pembelajaran yang menyenangkan, visual, dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Guru dapat memanfaatkan media digital untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian bertanya, serta kemampuan berinteraksi murid di dalam kelas. Lebih dari itu, IFP juga menjadi sarana penanaman literasi digital sejak dini. Anak-anak mulai terbiasa berinteraksi dengan teknologi secara positif, terarah, dan didampingi guru, sehingga perangkat digital benar-benar berfungsi sebagai media belajar, bukan sekadar hiburan.

Di tengah segala keterbatasan infrastruktur, praktik baik pemanfaatan IFP di PAUD Keerom dan Teluk Bintuni menunjukkan bahwa transformasi digital bukan semata tentang kecanggihan perangkat, melainkan tentang keberanian sekolah dan guru untuk terus beradaptasi demi masa depan anak-anak Indonesia.

Dirjen PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto mengatakan bahwa ke depan, penguatan listrik, konektivitas, serta pendampingan guru akan terus diperluas agar manfaat IFP semakin berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak satuan PAUD, termasuk di wilayah terdampak bencana.

”Dengan komitmen bersama antara satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan Kemendikdasmen, IFP di ruang kelas PAUD tidak hanya menginspirasi anak-anak dengan gambar di layar, tetapi juga menggugah harapan besar bahwa jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, percaya diri, dan setara,” ujar Gogot di Jakarta
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar







ADVERTISING

ADVERTISING