Jakarta, WaraWiri.net - Kementerian Agama terus memperkuat hubungan strategis bilateral dengan Kerajaan Yordania. Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Duta Besar Yordania untuk Indonesia Sudqi Atallah Abdel Qader Al Omoush menggelar pertemuan untuk membahas langkah-langkah konkret tindak lanjut Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), dengan menitikberatkan pada transfer pengetahuan manajemen wakaf serta penerapan skema ganda (dual scheme) dalam bidang pendidikan.
Dubes Yordania Sudqi Al Omoush menyatakan kesiapan penuh negaranya untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas pengelola wakaf serta pengiriman mahasiswa Indonesia.
"Kami siap kapan saja. Kami memiliki pusat bahasa dan universitas yang siap memfasilitasi kerja sama ini," ujar Dubes Sudqi Al Omoush.
Pengalaman Yordania dalam mengelola sektor wakaf dinilai sangat relevan untuk diterapkan, mengingat Indonesia memiliki potensi besar dari puluhan ribu pondok pesantren di berbagai daerah. Secara khusus, Menag Nasaruddin Umar menegaskan Kemenag siap menjalankan dua skema pengelolaan wakaf secara simultan, yaitu mengirimkan staf pengelola wakaf Indonesia ke Yordania dan mendatangkan pakar Yordania ke tanah air untuk menyelenggarakan program pelatihan khusus (tailored courses).
Selain wakaf, pertemuan bilateral tersebut merumuskan pengiriman mahasiswa melalui dua jalur: skema pembiayaan pemerintah (LPDP Kemenag) dan jalur mandiri dari jaringan pesantren.
Menanggapi hal tersebut, Menag menggarisbawahi bahwa kendala utama mahasiswa Indonesia di Timur Tengah adalah faktor bahasa.
"Satu-satunya kendala mahasiswa kita adalah bahasa. Sebelum masuk perkuliahan formal, kita harus menyiapkan kursus bahasa Arab terlebih dahulu, dan lebih baik preparasinya dilakukan langsung di Yordania," tegas Menag.
Guna mengantisipasi kendala tersebut, kedua belah pihak sepakat merancang program persiapan matrikulasi bahasa Arab formal (Fusha) maupun percakapan sehari-hari (Ammiyah) sebelum kuliah formal dimulai.
Tidak terbatas pada studi Islam, Yordania yang unggul di bidang sains terapan, teknik, kedokteran, hingga teknologi informasi (IT) juga membuka peluang studi umum berbahasa Inggris bagi mahasiswa Indonesia. Kolaborasi ini turut diperluas melalui program kursus singkat (short course) bagi para dosen, imam, khatib, hingga muadzin.
Guna memperluas cakupan kolaborasi, kedua pihak sepakat memperluas jangkauan kemitraan ke sektor ekonomi dan perbankan syariah serta wisata religi berlandaskan kesamaan nilai-nilai Islam moderat. Sebagai langkah operasional, tim teknis kedua belah pihak akan merumuskan rincian program yang akan dituangkan ke dalam Letter of Intent (LoI). (Junaedi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar