NTT, WaraWiri.net - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan pascabencana gempa Flores di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui penyediaan air bersih bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengeboran sumur dalam yang dimulai sejak 17 Oktober 2026 dan penyediaan 24 unit Hidran Umum (HU) berkapasitas 2.300 liter per unit.
Pengeboran sumur dalam dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II dengan rencana penanganan sebanyak 2 titik. Saat ini sebanyak 1 titik sedang progress pengerjaan, sedangkan 1 titik lainnya masih dalam proses mobilisasi alat. Pekerjaan ini ditujukan untuk menambah ketersediaan sumber air baku yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali mengakses kebutuhan dasar, termasuk air bersih. Upaya penyediaan air melalui sumur dalam dan hidran umum diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa pemulihan.
Pulau Palue merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sikka yang terdiri atas 8 desa dan berada di kawasan gunung api aktif Rokatenda. Keterbatasan sumber air alami di wilayah kepulauan tersebut menyebabkan masyarakat menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Oleh karena itu, penyediaan sumber air menjadi salah satu prioritas dalam mendukung pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana gempa Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Selain pengeboran sumur, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) NTT turut menyediakan 24 unit HU berkapasitas 2.300 liter per unit. Perakitan hidran umum telah dimulai sejak 5 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat sembari menunggu penyelesaian pembangunan sumur dalam.
Sumur yang dibangun memiliki kedalaman rata-rata sekitar 100 meter dan diameter lebih dari 4 inci. Penentuan kedalaman pengeboran dilakukan berdasarkan survei geolistrik untuk mengidentifikasi potensi sumber air tanah. Setiap sumur direncanakan dilengkapi pompa submersible, rumah tenaga listrik, reservoir atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum untuk mendukung penampungan dan distribusi air. Debit air yang ditargetkan lebih dari 2 liter per detik.
Melalui penyediaan sumur dalam dan hidran umum, Kementerian PU berkomitmen mendukung pemulihan pascabencana di Pulau Palue sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap air bersih secara bertahap dan berkelanjutan. (Bambang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar