Bekasi, WaraWiri.net - Anggota Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI, Nurwayah, S.Pd., Fraksi Partai Demokrat, menegaskan, guru atau tenaga pendidik memiliki jasa yang sangat besar. Ia mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Karena itu, tidak mungkin ada orang berpendidikan, baik orang biasa maupun pemimpin, yang tidak pernah memiliki guru. Tanpa guru, semua orang tidak akan menjadi apa-apa. Itu terjadi di berbagai penjuru dunia, bukan hanya di Indonesia.
Para guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka selalu menjaga dan membersamai anak didiknya dari pagi hingga sore. Karena itu, Badan Sosialisasi MPR fokus melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada para pendidik agar mereka meneruskan materi yang diperoleh selama sosialisasi kepada murid-muridnya.
“Sebelum terjun ke politik, saya adalah seorang guru. Jadi saya tahu betul dan bisa merasakan perjuangan serta suka duka seorang guru. Apalagi, saat ini masih banyak hak-hak guru yang belum bisa diberikan oleh negara, mulai dari gaji, kesejahteraan hingga sarana dan prasarana belajar,” kata Nurwayah saat membuka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI berbasis komunitas, kerja sama MPR dengan Nawasena Leaders Institute. Acara tersebut berlangsung di Bekasi, Minggu (4/10/2026).
Turut hadir pada acara tersebut anggota Bansos, Iyeth Bustami (F-PKB), Dr. Ir. H. Ahmad Junaidi Auli (F-PKS), dan narasumber sosialisasi Yoga Sumarsono, S.H.
Karena itu, Nurwayah mengapresiasi pengorbanan para guru, seraya berharap para pendidik tidak bosan dan capek untuk memberikan ilmu kepada murid-muridnya, meskipun masih banyak hak-haknya yang belum bisa diberikan oleh negara.
Guru dan Pembentukan Akhlak Generasi Muda
Sambutan serupa disampaikan Iyeth Bustami. Menurut Anggota F-PKB MPR RI Dapil Riau 1 ini, dirinya tidak bisa mendidik anak-anaknya sendiri tanpa kehadiran dan bantuan guru. Karena itu, ia bersyukur serta berterima kasih kepada para guru yang telah mendidik anak-anaknya. Terima kasih juga ia sampaikan kepada para guru yang dulu membinanya, karena tanpa guru tidak mungkin orang tuanya bisa mendidik dirinya.
“Para guru kita menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mendidik. Berbuat keras sedikit muridnya akan mengadu ke orang tua. Padahal Dulu kita belajar di kelas itu sering dimarahi sama guru, agar kita tertib dan baik, tetapi sekarang itu tidak berlaku. Jadi harus tetap tegas tetapi tidak boleh menyakiti,” ujar Iyeth.
Menurut Iyeth, jika diringkas, Empat Pilar itu intinya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, ia menekankan pentingnya pelajaran agama dan pembentukan akhlak yang mulia.
“Orang yang agama dan akhlaknya baik, tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Karena agama dan Pancasila itu sejalan, tidak saling bertentangan. Karena itu kita perlu menekankan pentingnya pelajaran agama dan pembentukan akhlak yang baik. Kalau akhlak seorang anak baik, niscaya dia tidak hanya akan menghormati orang tuanya, tetapi juga gurunya,” ungkap Iyeth.
Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Pendidik
Seperti dua pembicara sebelumnya, narasumber ketiga, Dr. Ir. H. Ahmad Junaidi Auli, juga menekankan arti penting guru bagi pembentukan kepribadian bangsa. Karena itu, Badan Sosialisasi MPR RI fokus memberikan sosialisasi kepada para pendidik karena interaksi mereka dengan para siswa sangat dekat.
“Anggaran kita terbatas, makanya kita memilih untuk fokus melaksanakan sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada para pendidik, agar sasaran yang dituju jelas. Begitupun belum seluruh pendidik bisa mengikuti sosialisasi,” ujar Ahmad Junaidi Auli.
Pada kesempatan itu, Ahmad Junaidi mengingatkan, pada awalnya kegiatan ini dinamakan sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Tetapi kemudian dirubah menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
“Sesungguunya pilar bangsa itu banyak jumlahnya. Selain Pancasila, UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1944, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, masih ada lagi yang lain. Antara lain, Bendera negara dan bahasa persatuan. Tetapi dalam Empat Pilar MPR RI kita fokuskan pada Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Ahmad Junaidi.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar menurut Ahmad Junaidi adalah sesuatu yang sangat penting. Terbukti, banyak remaja yang sudah lupa terhadap sila-sila Pancasila. Dengan sosialisasi diharapkan, mereka akan kembali mengingat dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, pernah ada seorang artis penyanyi ditunjuk jadi Duta Pancasila, ternyata tidak hafal sila-silanya. Sehingga batal jadi Duta Pancasila.
“Dalam sejarah, pernah ada yang berusaha mengubah Pancasila menjadi Trisila bahkan Ekasila. Itu artinya, ada yang ingin mengubah dasar negara kita menjadi dasar negara yang lain. Oleh karena itu sosialisasi ini juga diarahkan untuk menjaga supaya Pancasila tetap eksis sebagai dasar dan ideologi negara,” kata Ahmad Junaidi menambahkan. (Bambang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar