Bandung, WaraWiri.net - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga menghasilkan produk yang memberikan dampak. Melalui praktik langsung di berbagai unit kerja, mahasiswa dituntut mengembangkan kreativitas dan inovasi sekaligus memahami dinamika kerja di lingkungan Perpusnas.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengatakan, program magang bagi mahasiswa perguruan tinggi memiliki pola yang fleksibel. Ia menyampaikannya di hadapan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN Bandung) beserta jajaran. Menurutnya, durasi magang dapat disesuaikan, mulai dari satu minggu hingga tiga sampai enam bulan, dengan penempatan yang terlebih dahulu dikonsultasikan bersama Perpusnas.
“Magang lebih banyak memberikan pengalaman praktik di lapangan, bukan teori. Setiap mahasiswa yang magang harus menghasilkan produk yang berdampak,” ujarnya saat menerima kunjungan UIN Bandung, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, karya yang dihasilkan mahasiswa dapat dikembangkan sesuai kreativitas dan kebutuhan Perpusnas, termasuk dalam bentuk konten media sosial, film pendek, maupun audiovisual. Mahasiswa juga akan diperkenalkan dengan dinamika kerja di lingkungan Perpusnas, termasuk sistem kerja bergilir dan kemungkinan bertugas pada akhir pekan.
“Kami ingin mahasiswa juga merasakan bagaimana suasana kerja dengan sistem shift, termasuk masuk Sabtu-Minggu dan pulang sampai jam tutup di malam hari,” terangnya.
Perpusnas tidak membatasi jumlah maupun periode mahasiswa yang mengikuti program magang. Mahasiswa dapat ditempatkan di berbagai unit kerja dengan dukungan materi, mentor, maupun narasumber dari Perpusnas. Saat ini, sekitar 24 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi juga tengah menjalani magang di Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara (Pujasintara).
Selain program magang, Perpusnas membuka peluang kolaborasi dengan UIN Bandung melalui kegiatan bimbingan teknis penggunaan media digital dan bimbingan pemustaka. Perpusnas juga dapat menyediakan ruang virtual serta narasumber tanpa biaya karena kegiatan tersebut merupakan bagian dari layanan dan program Perpusnas.
“Kalau mau berinovasi, pembicara dari kedua belah pihak bisa terlibat. Bila perlu moderator atau pembawa acaranya dari mahasiswa, sehingga ada pembelajaran yang berkesinambungan. Jadi semua pihak punya peran,” tutur Suharyanto.
Untuk kegiatan pembelajaran mahasiswa, Perpusnas juga terbuka menjadi narasumber dalam kuliah umum atau seminar. Suharyanto menyebut pustakawan dapat dilibatkan karena memiliki pengalaman praktis yang lebih dekat dengan mahasiswa.
“Kalau dari kami eselon satu, biasanya membahas kebijakan. Kalau pustakawan, frekuensinya lebih dekat dan lebih dapat ketika memotivasi mahasiswa,” pungkasnya.
Sebelumnya, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung melihat Perpusnas sebagai salah satu mitra utama dalam pengembangan Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam yang kini memasuki tahun keempat. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung Dedi Supriadi menyampaikan, pihaknya tengah mempersiapkan kurikulum bagi mahasiswa agar memiliki gambaran mengenai peluang karier di bidang perpustakaan.
“Kami memikirkan bagaimana nanti kerjanya. Kenapa kita tidak komunikasi dengan induk perpustakaan,” ucapnya.
UIN Bandung juga berencana mengembangkan program magang selama satu semester bagi mahasiswa. Selain itu, pada September 2026 akan dilaksanakan kuliah umum atau seminar yang mengangkat topik literasi digital, perpustakaan digital, kecerdasan artifisial (AI), dan peluang karier di bidang perpustakaan.
“Kami ingin mahasiswa tahu ke depannya peran perpustakaan gimana, intinya kami ingin mahasiswa tahu peluangnya gimana kalau mereka menekuni ilmu perpustakaan,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi menyampaikan bahwa kerja sama yang dibangun tidak ingin berhenti pada dokumen formal. Hal tersebut sejalan dengan arahan Kementerian Agama yang menekankan pentingnya aksi dan dampak nyata dari setiap kerja sama.
“Yang penting action, dampaknya apa. Itu jadi komitmen kami,” sebutnya.
Kedua pihak turut membahas penguatan kerja sama melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Perpusnas juga akan melakukan penelusuran dan validasi data terkait kerja sama sebelumnya yang tercatat sejak 2018. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengembangan kerja sama didasarkan pada data dan implementasi yang jelas. (Evi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar