Jakarta, WaraWiri.net - Managing Director, Global Business Development, Corporate Finance & Investments, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Djamal Attamimi, menyebut membuka peluang kolaborasi pendanaan jangka panjang untuk pengembangan ekosistem olahraga di Indonesia.
Menurutnya, sektor sport tourism dinilai menjadi salah satu bidang yang paling siap dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan Djamal saat menjadi narasumber dalam sesi Global Leadership Forum Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 bertajuk Financing the Future of Sport: Trust Funds, Strategic Capital, and National Development.
Djamal mengatakan olahraga tidak hanya berkaitan dengan prestasi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Karena itu, pengembangan olahraga membutuhkan dukungan modal, tata kelola, serta sistem pendanaan yang berkelanjutan.
Ia menyebut anggaran pengembangan sports tourism pada 2025 mencapai Rp 6,5 miliar. Menurut data yang disampaikannya, anggaran tersebut terserap 98,88 persen dan menghasilkan aktivitas ekonomi sekitar Rp 2 triliun di beberapa provinsi.
"Modal awal Rp 6,5 miliar memberikan dampak ekonomi Rp 2 triliun. Itu menunjukkan multiplier effect kegiatan yang berhubungan dengan olahraga cukup tinggi," kata Djamal.
Ia menyebut nilai ekonomi olahraga Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp 40 triliun. Di sisi lain, Indonesia memiliki basis pasar yang besar dengan sekitar 280 juta penduduk serta tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas olahraga.
Besarnya potensi tersebut, menurutnya perlu diikuti dengan kepastian industri agar investor lebih mudah masuk. Ia mengidentifikasi tiga hal yang perlu diperkuat, yakni klasifikasi industri, pengukuran dampak ekonomi, serta jangka waktu pendanaan.
"Permodalan hanya akan datang kalau identifikasi dan definisi sektornya jelas dalam ekosistem itu sendiri," ujarnya menegaskan.
Menurutnya, kebutuhan pendanaan olahraga juga memiliki karakter jangka panjang. Pengembangan atlet disebut membutuhkan waktu sekitar 12 tahun, liga olahraga sekitar 15 tahun untuk mencapai kematangan, sedangkan stadion memiliki umur ekonomis sekitar 40 tahun.
"Pendanaan jangka pendek sepertinya kurang sesuai untuk sejumlah proyek olahraga. Pendanaan perlu disesuaikan dengan waktu yang dibutuhkan agar investasi dapat menghasilkan dampak optimal," paparnya.
Djamal mengatakan sport tourism menjadi salah satu sektor yang relatif siap dikembangkan karena kebutuhan modalnya dinilai tidak terlalu besar. Selain itu, Indonesia telah memiliki sejumlah aset dan infrastruktur yang dapat dioptimalkan untuk mendukung kegiatan olahraga dan pariwisata.
"Peluang yang bisa segera diwujudkan adalah sport tourism. Kebutuhan modalnya relatif ringan dan aset yang kita miliki sudah ada," tuturnya.
Ia juga menilai penyelenggaraan PON 2028 mendatang di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dapat menjadi momentum untuk mengembangkan ekosistem olahraga dan infrastruktur pendukung, seperti stadion, hotel, bandara, serta akses jalan.
CEO Danantara Rosan Roeslani melalui video yang ditayangkan menyampaikan selamat atas terselenggaranya ISS 2026. Forum ini lanjutnya, menjadi momentum penting memperkuat kolaborasi dalam memajukan ekosistem olahraga.
Olahraga menurutnya, bukan hanya tentang prestasi tapi tentang pembangunan manusia, peningkatan ekonomi serta peningkatan daya saing bangsa.
"Untuk itu olahraga memerlukan dukungan pendanaan yang berkelanjutan, kemitraan yang kuat dan investasi jangka panjang. Danantara Indonesia siap berkolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung pengembangan ekosistem olahraga Indonesia semakin kuat dan berdaya saing," ujarnya. (Tedy)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar