Merespon Kondisi Masyarakat Terdampak Bencana, Perpusnas Dorong Pegiat Literasi Kembangkan Aktivitas Psikososial

Merespon Kondisi Masyarakat Terdampak Bencana, Perpusnas Dorong Pegiat Literasi Kembangkan Aktivitas Psikososial. (Dok. Perpusnas)

Jakarta, WaraWiri.net - Humas Perpusnas. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Suharyanto menerima kunjungan dari pegiat literasi yang masuk dalam Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) DKI Jakarta. Kunjungan ini membahas mengenai penguatan kolaborasi literasi yang dapat dilakukan Perpusnas dengan para pegiat literasi.

Pada kesempatan tersebut, Suharyanto menyampaikan gagasan untuk berkolaborasi dalam merespons kondisi masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah yang terdampak bencana. Salah satunya, kondisi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta sejumlah wilayah lain seperti Kalimantan, Sumatera, dan Lampung.

Menurutnya, pegiat literasi dapat mengambil peran dalam menghadirkan kegiatan yang tidak sekadar menyediakan bahan bacaan, tetapi juga mendukung masyarakat dalam situasi pascabencana. Salah satu bentuk yang dapat dikembangkan adalah kegiatan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana maupun aktivitas literasi yang mengangkat pengetahuan mengenai mitigasi bencana.

“Di beberapa wilayah daerah NTT, Kalimantan, Sumatera, Lampung sedang ada bencana. Terutama bagi saya fokus di NTT, apa yang harus kita lakukan kerja bersama,” ungkapnya, Rabu (26/8/2026).

Menanggapi hal tersebut Pegiat Literasi Safrudiningsih atau yang akrab disapa Ning Nong, mengatakan pegiat literasi dapat berkolaborasi dengan komunitas literasi lokal di wilayah terdampak bencana untuk menggali kebutuhan masyarakat sekaligus menghadirkan kegiatan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Mungkin bisa dikolaborasikan, melakukan mitigasi bencana terkait NTT dapat dilakukan melalui dongeng, selain itu juga dukungan psikososial," ungkap Pendiri TBM Bukit Duri Bercerita.

Suharyanto mengatakan, ruang kolaborasi antara Perpusnas dengan pegiat literasi maupun komunitas literasi dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan. Ia menyebutkan, salah satunya pada rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan, 14 September 2026 mendatang. Menurutnya, kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan ini tidak harus selalu dilaksanakan di lingkungan Perpusnas.

"Ada beberapa agenda kegiatan yang bisa kita kolaborasikan, kerja bersama terkait Hari Kunjung Perpustakaan, kegiatannya tidak melulu harus di Perpusnas. Silakan jika ada gagasan apa kita diskusikan," katanya.

Ia menegaskan, pertemuan dengan pegiat literasi ini menjadi penting sebagai pintu masuk untuk menghasilkan aksi bersama. Perpusnas, lanjutnya, terbuka terhadap gagasan dan kreativitas komunitas sepanjang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperkuat ekosistem literasi.

Sepanjang 2026 ini, lanjutnya, beberapa kegiatan bersama pegiat literasi sudah dilakukan. Misalnya, penggunaan ruangan, hingga pelaksanaan kegiatan read a load. 

"Sampai saat ini ada 12 kegiatan yang sudah dilakukan," lanjutnya.

Pengelola TBM Kampung Buku, Edi Dimyati, turut menyampaikan berbagai pengalaman dan jejaring kerja yang telah dibangun komunitas literasi. Ia menilai pemetaan komunitas menjadi langkah penting sebelum pelaksanaan program di suatu wilayah.

“Kalau mau berkegiatan (di suatu wilayah), kita harus cari dulu komunitasnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yudi Hartanto, pegiat literasi yang pernah memimpin Forum TBM DKI Jakarta periode 2021–2026 sekaligus pendiri Rumah Baca Zhaffa. Rumah Baca Zhaffa telah berdiri selama sekitar 18 tahun dan menjadi salah satu ruang masyarakat untuk memperoleh akses informasi dan bahan bacaan.

Menurutnya, TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Berbagai kegiatan dapat dikembangkan, mulai dari pelatihan fotografi, public speaking, penulisan, dongeng, hingga kegiatan kreatif lainnya.

“Kami memfasilitasi akses informasi, memberikan pengetahuan, membagi buku dan bahan bacaan. Selain enam literasi dasar. Kami juga melakukan kolaborasi kegiatan bersama,” jelasnya.

Di Jakarta sendiri terdapat sekitar 70 TBM yang tersebar di berbagai wilayah. Pertumbuhan TBM, menurut Yudi, turut dipengaruhi oleh kepadatan wilayah dan kebutuhan masyarakat terhadap ruang belajar serta akses informasi.

Forum TBM DKI Jakarta juga telah mengembangkan berbagai program kolaboratif. Salah satunya Everybody Reading pada 2022 yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), dengan rangkaian kegiatan berupa diskusi, pameran foto, pameran karya, workshop, hingga donasi buku. (Putra)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar







ADVERTISING

ADVERTISING