Jerman, WaraWiri.net - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mendorong Indonesia untuk mengambil peran besar dalam upaya menyelamatkan pulau-pulau yang terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini Wamen Diaz sampaikan dalam sejumlah pertemuan bilateral dengan negara sahabat di sela-sela Berlin Climate Mobility Forum (BCMF) 2026.
"Oleh karena itu, upaya kami (di forum BCMF) bertujuan untuk memastikan bahwa solusi adaptasi dan mobilitas melindungi masyarakat kami. Mobilitas iklim pada akhirnya adalah tentang manusia, rumah mereka, mata pencaharian, budaya, dan masa depan mereka. Tanggung jawab bersama kita adalah untuk memastikan bahwa tidak ada komunitas yang dibiarkan tanpa pilihan, perlindungan, atau harapan," seperti disampaikan Wamen Diaz ketika diwawancarai oleh awak media secara daring.
Dalam keterangan tertulisnya, Wamen Diaz menggelar sejumlah pertemuan bilateral untuk mendiskusikan potensi kerja sama serta proyeksi isu kenaikan permukaan air laut ke depan termasuk beberapa pejabat tinggi negara seperti Presiden Palau, Surangel S. Whipps Jr., Governor-General Tuvalu, Tofiga Vaevalu Falani, Menteri Perubahan Iklim, Lingkungan, dan Energi Maladewa, Ali Shareef, dan Ketua Komite Perlindungan Lingkungan di bawah Pemerintah Republik Tajikistan, Sheralizoda Bahodur Ahmadjon.
Wamen Diaz juga menceritakan pertemuan dengan Menteri Kehutanan, Perikanan, dan Lingkungan Hidup Afrika Selatan, Willem Abraham Stephanus Aucamp, yang menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menemukan solusi bersama.
“Menteri LH Afrika Selatan menyatakan pertemuan dengan negara lain selalu baik, pertemuan (bilateral) seperti ini sangat penting, jika kita tidak berupaya untuk mengimplementasikan sesuatu, kita akan mengalami kerugian yang sangat besar,” ujar Wamen Diaz.
Saat bertemu dengan Kementerian Lingkungan Hidup Jerman, Wamen Diaz menceritakan bahwa forum disebut sebagai momentum terbaik untuk mendorong agenda mobilitas iklim menjelang Conference of the Parties (COP) ke-31 dalam kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
“Saat berbicara dengan Director General for International Climate Action Jerman, Heike Henn, beliau bilang pembahasan mengenai topik mobilisasi penting dengan COP mendatang, ini adalah sesuatu yang dapat didorong oleh koalisi negara-negara (BCMF), langkah selanjutnya harus berdampak nyata, kita harus memiliki kemauan politik dan momentum yang baik untuk memulai,” jelas Wamen Diaz.
Managing Director Global Centre for Climate Mobility, Kamal Akrane, yang turut bertemu dengan Wamen LH Diaz, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang kepulauan kecil atau Small Island Developing States (SIDS).
“Kalau dari GCCM, dikatakan bahwa Indonesia sudah berhasil menjadi anggota G20 maka bisa menjadi contoh bagi pulau-pulau (SIDS) untuk melihat Indonesia sebagai contoh sukses, Indonesia bisa menjadi jembatan antara negara-negara di utara dan di selatan,” jelas Wamen Diaz.
Forum BCMF sendiri bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap mobilitas iklim yang dipicu oleh krisis iklim, di mana masyarakat terancam harus berpindah dan meninggalkan tempat tinggal asal mereka. Wamen Diaz menilai isu mobilitas iklim ini perlu mendapat perhatian lebih luas, tidak hanya bagi negara-negara SIDS, tetapi juga bagi negara kepulauan besar seperti Indonesia, sehingga keduanya dapat bersatu dalam menghadapi ancaman yang sama.
“Indonesia merupakan kumpulan lebih dari tujuh belas ribu pulau dan masyarakat di garis depan menghadapi tantangan berupa kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, intrusi air asin, dan erosi garis pantai seperti negara-negara lain, termasuk negara-negara kepulauan kecil (SIDS). Oleh karena itu, kita harus mengakui keadaan khusus negara-negara kepulauan (archipelagic), pesisir (coastal), dan pulau kecil (small islands),” ajak Wamen Diaz. (Siti)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar