NTT, WaraWiri.net - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua melalui penguatan partisipasi semesta dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang berfokus pada peningkatan literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), upaya tersebut dilakukan bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan mitra pembangunan untuk membangun ekosistem pendidikan yang literat, inklusif, dan berkelanjutan.
Salah satu implementasinya adalah penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT dalam rangka Hari Buku Nasional. Mengusung tema “Dari Bumi Flobamorata Menyemai Benih Menebar Pijar Literasi”, kegiatan ini adalah wujud kerja sama antara Pemerintah Daerah NTT, INOVASI, dan Bank Indonesia.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan kualitas literasi bangsa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, literasi memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar dapat tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” ujar Hafidz.
Ia menjelaskan bahwa hasil berbagai asesmen pendidikan menunjukkan perlunya penguatan budaya membaca dan kemampuan literasi peserta didik secara lebih masif. Oleh karena itu, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa terus memperluas akses bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan jenjang usia anak.
Menurutnya, Provinsi NTT menjadi salah satu daerah prioritas penguatan literasi nasional pada tahun 2026. Badan Bahasa akan mendistribusikan masing-masing 200 eksemplar buku bacaan bermutu ke 1.294 sekolah dasar dan masing-masing 300 eksemplar pada 393 sekolah menengah pertama di NTT.
“Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, sesuai usia dan jenjang pendidikan mereka. Dari sanalah kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh,” tandasnya.
Selain bantuan buku ke sekolah, Badan Bahasa juga menyerahkan sebanyak 5.400 buku bacaan bermutu kepada Bunda Literasi NTT untuk didistribusikan ke berbagai daerah di provinsi tersebut. Badan Bahasa turut memberikan diska keras eksternal yang memuat 1.400 judul buku digital untuk diperbanyak dan dimanfaatkan oleh Bunda Literasi kabupaten/kota di seluruh NTT.
Peningkatan Kemampuan Literasi Generasi Muda
Balai Bahasa Provinsi NTT bersama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) melakukan penguatan literasi pada generasi muda. Para peserta didik dilibatkan secara langsung dalam kegiatan membaca dan pembelajaran literasi.
Sebanyak 700 siswa dari jenjang SD hingga SMA mengikuti aktivitas literasi sesuai tingkat pendidikan masing-masing. Siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan mengulas buku, siswa SMP dibekali keterampilan membaca cepat, sedangkan siswa SMA diajak melakukan pembacaan kritis terhadap cerita yang dipaparkan narasumber.
Hafidz menilai antusiasme peserta menunjukkan bahwa anak-anak memiliki minat belajar yang tinggi ketika diberikan ruang dan bahan bacaan yang menarik dan tepat.
“Ada siswa yang merasa cerita yang dibaca sangat dekat dengan kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar memahami teks, tetapi juga membangun empati. Mereka belajar memahami isi bacaan dan mengembangkan imajinasi serta berpikir kritis,” ujarnya.
Para peserta sangat antusias saat membaca buku cerita bergambar yang menarik perhatian mereka. Keceriaan dan kebersamaan tumbuh dalam aktivitas membaca bersama teman seusianya. Saat diminta menceritakan kembali buku cerita yang dibacanya, mengalir dengan lancar dengan pemahaman yang utuh apa yang dibacanya.
Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, menyampaikan sambutan Gubernur NTT pada kegiatan ini menekankan budaya membaca masyarakat NTT menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2025 dari Perpustakaan Nasional, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai 62,05 atau berada di atas rata-rata nasional sebesar 54,80.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul di NTT.
“Kita harus menjaga semangat membaca ini dengan menghadirkan bahan bacaan yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.
Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, juga menegaskan pentingnya gerakan literasi yang berangkat dari keluarga. Ia menyebut dukungan dan kolaborasi bersama Badan Bahasa membantu memperkuat gerakan literasi hingga tingkat daerah.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya. (Fathi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar