Sumatera Selatan, WaraWiri.net - Siapa sangka program Revitalisasi Satuan Pendidikan menjadi wadah dalam menginternalisasikan penguatan karakter dan budaya hidup sehat. Namun hal itulah yang nampak di SMAN 1 Indralaya. Alih-alih membangun toilet di area belakang gedung, sekolah ini melakukan inovasi dengan menempatkan toilet di area depan kelas, dekat dengan lapangan.
Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pembentukan karakter. “Kami sengaja menempatkan toilet di area yang mudah dilihat dan diakses. Tujuannya agar siswa lebih merasa memiliki, peduli dan bertanggung jawab terhadap kebersihan serta keutuhan fasilitas tersebut,” jelas Pudyo, Kamis (22/1).
Selain toilet, ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) juga diletakkan di depan kelas, sehingga siswa bisa langsung memantau dan memberikan perhatian kepada teman-teman yang sedang sakit. “Ketika fasilitas dipercayakan di tempat yang terbuka dan terawat, siswa belajar tentang transparansi, tanggung jawab, dan kebanggaan kolektif,” lanjutnya. Selain toilet dan UKS, program revitalisasi ini dimanfaatkan juga untuk membangun laboratorium IPA yang memenuhi standar, rehabilitasi musala.
Para siswa juga menyatakan kegembiraan atas hasil program revitalisasi ini. Rizqa Kamila, siswa kelas XII SMAN 1 Indralaya, mengaku lebih percaya diri dengan wajah sekolah yang baru. “Aku jadi semangat belajar apalagi saat ada mata pelajaran Fisika. Aku senang sekali ke laboratorium baru, terlebih lagi alat-alatnya juga lengkap,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Rifki Abian, siswa Kelas X. Ia lebih semangat ke sekolah karena tampilan sekolahnya kini terlihat lebih kekinian, ruang UKS yang bersih dan obat-obatannya lengkap.
Pratik unik yang diterapkan SMAN 1 Indralaya menarik perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Ia menegaskan bahwa fokus revitalisasi ke depan adalah kenyamanan psikologis anak saat berada di lingkungan sekolah. Hal ini ditegaskan saat meresmikan 47 satuan pendidikan di Sumatra Selatan yang bertempat di SMAN 1 Indralaya.
“Tidak hanya gedungnya yang baik, tidak hanya alatnya yang baik, tetapi juga kita ciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, sehingga anak-anak dapat belajar dengan baik, mencapai cita-cita mulia. Sekolah menjadi rumah kedua untuk siswa,” tegasnya.
Mendikdasmen menambahkan, program Revitalisasi Satuan Pendidikan di seluruh Indonesia tidak hanya sekadar berfokus untuk memperbaiki gedung yang rusak, tetapi bertujuan menciptakan lingkungan belajar aman, nyaman, dan mendukung transformasi karakter siswa. Percepatan revitalisasi ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 Tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Dalam regulasi tersebut, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dimaknai sebagai keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital. Tujuannya, menciptakan dan menjaga lingkungan belajar yang kondusif bagi warga sekolah.
Testimoni Warga Sekolah Setelah Revitalisasi: Tak Lagi Khawatir Atap Runtuh
Sementara itu, di SMPN 1 Lubuk Liat, program Revitalisasi Satuan Pendidikan secara langsung menjawab persoalan keselamatan belajar yang sebelumnya dihadapi sekolah. Ruang-ruang kelas yang sempat mengalami kerusakan seperti lantai yang retak, kondisi atap yang mengkhawatirkan, kini telah diperbaiki, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih nyaman.
Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion, menjelaskan kondisi sekolah setelah revitalisasi jauh lebih aman dan bersih. “Kami tidak khawatir lagi akan ada reruntuhan dari atap,” ujarnya.
Desi Huswinda, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, merasa sangat terbantu dengan adanya program revitalisasi. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk pembangunan ruang UKS, ruang administrasi serta lima unit toilet, termasuk toilet untuk disabilitas. Sementara itu, ruang yang diperbaiki meliputi toilet dan perpustakaan.
Ia berharap, ruang kelas yang ada juga bisa diperbaiki. Menurutnya, pemutakhiran Data Pokok Pendidikan menjadi penting untuk memberikan gambaran kondisi sekolah secara riil, sehingga bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah dapat lebih sesuai dengan kebutuhan. (Fitri)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar