Jakarta, WaraWiri.net - Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri menegaskan kesiapan taktis dan strategisnya dalam menghadapi berbagai bentuk bencana, baik alam maupun nonalam, termasuk ancaman bahan kimia, biologi, radioaktif, dan nuklir (KBRN).
Penegasan ini disampaikan dalam rapat koordinasi lintas sektoral potensi SAR yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di Kantor Pusat Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Kamis, 26 Juni 2025.
Dalam kegiatan yang dihadiri oleh berbagai instansi lintas sektor, Teknisi KBRN Utama Tingkat II Korps Brimob Polri, Brigjen Pol. Pradah Pinunjul, menegaskan keterlibatan Korps Brimob Polri dalam Operasi Kontinjensi Aman Nusa II Tahun 2025.
Operasi ini mencakup kesiapsiagaan menghadapi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan longsor, serta bencana nonalam yang meliputi wabah penyakit menular, kebocoran bahan kimia berbahaya, hingga paparan zat radioaktif yang berpotensi mengancam keselamatan publik dan keamanan negara.
Keterlibatan Korps Brimob Polri dalam operasi ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang menegaskan tugas Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Hal ini juga diperkuat oleh Rencana Kontinjensi Nomor: Renkon/6297/XII/Ops/2024 tentang Rencana Kontinjensi Aman Nusa II Tahun 2025 sebagai pedoman pelaksanaan Operasi Aman Nusa II.
Brimob Polri telah menyiapkan kekuatan personel terlatih khusus dalam penanganan SAR dan Satuan KBRN (Kimia, Biologi, Radioaktif, dan Nuklir), lengkap dengan peralatan pendukung yang memadai.
Persiapan ini bertujuan untuk mendukung operasi kemanusiaan secara cepat dan presisi. Langkah ini merupakan bagian dari kontribusi aktif Polri dalam menjaga keselamatan masyarakat, melindungi lingkungan, dan memperkuat stabilitas nasional di tengah potensi ancaman yang semakin kompleks.
“Korps Brimob Polri memiliki unit dan kemampuan dalam penanganan SAR serta teknis dalam mendeteksi, menangani, dan menetralisir ancaman KBRN sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional dalam situasi darurat,” tegas Brigjen Pol. Pradah Pinunjul.
Rapat koordinasi ini dipimpin oleh Deputi Bidang Tenaga dan Potensi SAR, Moh. Barokna Haulah, dan menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah seluruh komponen potensi SAR.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan efektivitas respons nasional terhadap situasi darurat yang kompleks dan multidimensional, khususnya di tengah eskalasi risiko bencana akibat perubahan iklim serta munculnya ancaman nonkonvensional.
Kegiatan berlangsung dalam suasana formal, sinergis, dan penuh komitmen lintas instansi, mencerminkan dedikasi bersama dalam menjaga keselamatan masyarakat dan kedaulatan negara. (Slamet)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar